Cari Blog Ini

Selasa, 17 Februari 2026

𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗻𝗴𝗲𝗰𝗲𝘄𝗮𝗶𝗻, 𝗔𝗹𝗹𝗼𝗵 𝘁𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵

‎وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ​ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ​ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا‏ "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." ( Q.S. At-Talaq (65):3 )

𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣: 𝗟𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 & 𝗹𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻!


‎اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ "Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri." ( QS. Al-Isra : 7 )

𝗞𝗮𝗹𝗮𝘂 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗵𝗶𝘁 𝗱𝗶𝘀𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻, 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝘁𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴?

Belajar lepaskan. Belajar berbaik sangka. Pasti ada rahasia Alloh dibalik setiap kepahitan. وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." ( QS. Asy-Syura : 43 )

Semua yang kita alami ada di dalam Al-Qur'an:*

*ketika putus asa:* Surah Yusuf (87) *ketika insecure:* Surah Ali Imran (139) *ketika sedih:* Surah Al Baqarah (25) *ketika difitnah/dihina:* Surah Yassin (76) *ketika tertekan:* Surah Ar Rad (28) *ketika kesusahan:* Surah Al Insyirah (5) *ketika berdosa:* Surah Az Zumar (53) *ketika tidak di hargai:* Surah Al insan (22) Ingat! Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗶 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿, 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗸𝗮𝗹 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴

‎وَمَا هٰذِهِ الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَاۤ اِلَّا لَهۡوٌ وَّلَعِبٌ​ؕ وَاِنَّ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ لَهِىَ الۡحَـيَوَانُ​ۘ لَوۡ كَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ‏ "Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." ( QS. Al-Ankabut : 64 )

Tafsir dan makna hawqalah

Inilah tafsir kalimat hawqalah لاحول ولا قوة الا بالله berdasarkan hadits shahih riwayat al-Bazzar : اي لا حول عن معصية الله الا بعصمة الله، Tidak ada daya upaya (seseorang) untuk selamat (yakni terhindar) dari perkara maksiat (dosa), kecuali dengan pemeliharaan Allah. ولا قوة على طاعة الله الا بعون الله. dan tidak ada daya kekuatan (atas seseorang) untuk berbuat ketaatan kecuali karena ia mendapatkan pertolongan Allah.

Jangan Jadikan Orang Kafir Sebagai Orang Kepercayaan Dan Pemimpin

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28) Ibnu Abbas radhiallahu’anhu menjelaskan makna ayat ini:

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kaum mu’minin untuk menjadikan orang kafir sebagai walijah (orang dekat, orang kepercayaan) padahal ada orang mu’min. Kecuali jika orang-orang kafir menguasai mereka, sehingga kaum mu’minin menampakkan kebaikan pada mereka dengan tetap menyelisihi mereka dalam masalah agama. Inilah mengapa Allah Ta’ala berfirman: ‘kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka‘” (Tafsir Ath Thabari, 6825). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (QS. Al Maidah: 51) Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini:

“Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya. Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mu’min yang melanggar larangan ini Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim“” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132). Lalu Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’. Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’. Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’. Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘pecat dia!’. Umar lalu membacakan ayat: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132). Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin.

gar Ibadah Kurban Kita Diterima oleh Allah

🍂 Di dalam Al-Qur'an, Allah mengkisahkan dua putra Nabi Adam melakukan ibadah yang sama namun hanya satu yang diterima oleh Allah. “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu’. Dan berkata yang diterima kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’” [QS Al-Maidah: 27] 🍒 Di dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya, ataupun darah-darahnya (kurban). Akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari (hati) kalian.” [QS Al-Hajj: 37] 📒 Ketaatan yang hakiki bukan terletak pada gerakan anggota badan atau ucapan di lisan saja. Lebih daripada itu, ketaatan yang sejati adalah yang berakar dari dalam dada. Ketaatan yang tumbuh dari keikhlasan niat, kelurusan aqidah, dan berada di dalam koridor syari’at. 📚 Ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan haruslah ikhlas hanya untuk Allah semata, sebagaimana firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah (untuk Rabbmu).” [QS Al-Kautsar: 2] Demikian pula Rasulullah pernah bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih kurban kepada selain Allah.” [HR Muslim]