Cari Blog Ini

Jumat, 17 Juli 2026

tafsir lengkap al araf 148

 

Tafsir Lengkap Surah Al-A'raf Ayat 148 (QS. 7:148)

Berdasarkan 5 Ahli Tafsir: Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Quraish Shihab, dan Tafsir Kementerian Agama RI


📖 QS. Al-A'raf Ayat 148

Teks Arab

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعْدِهِۦ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهُۥ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ

Terjemahan Kemenag RI

"Dan kaum Musa, setelah (kepergian)-nya, membuat dari perhiasan-perhiasan mereka patung anak sapi yang bertubuh dan dapat mengeluarkan suara. Tidakkah mereka mengetahui bahwa (patung) itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak (pula) dapat menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan), dan mereka adalah orang-orang yang zalim."


Latar Belakang Ayat

Ayat ini menceritakan peristiwa ketika Nabi Musa alaihis salam pergi ke Gunung Sinai (Ṭur) untuk menerima Taurat. Selama kepergian beliau, sebagian Bani Israil dipengaruhi oleh Samiri, yang membuat patung anak sapi dari perhiasan mereka. Mereka kemudian menyembahnya, padahal sebelumnya telah menyaksikan berbagai mukjizat Allah melalui Nabi Musa.


1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyembahan anak sapi merupakan fitnah (ujian) besar bagi Bani Israil.

a. Anak sapi dari perhiasan

Patung itu dibuat dari emas dan perhiasan yang dikumpulkan dari Bani Israil. Pembuatnya adalah Samiri, sebagaimana dijelaskan lebih rinci dalam Surah Ṭaha.

b. Mengeluarkan suara

Mengenai frasa "lahu khuwār" (mengeluarkan suara sapi), Ibnu Katsir menyebut beberapa riwayat:

  • angin masuk ke rongga patung sehingga terdengar suara,

  • Allah menjadikannya sebagai ujian bagi Bani Israil.

Suara itu bukan tanda bahwa patung tersebut hidup atau memiliki kekuatan ilahi.

c. Kebodohan mereka

Allah mencela mereka karena patung itu:

  • tidak dapat berbicara,

  • tidak dapat memberi petunjuk,

  • tidak dapat memberi manfaat maupun menolak mudarat.

Meski demikian, mereka tetap menyembahnya.


2. Tafsir Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa:

Perhiasan yang digunakan berasal dari emas yang dikumpulkan Bani Israil.

Samiri membentuknya menjadi seekor anak sapi yang memiliki rongga sehingga ketika angin bertiup terdengar suara seperti lenguhan sapi.

Makna celaan Allah

Allah bertanya:

"Tidakkah mereka melihat?"

Pertanyaan ini bukan meminta jawaban, melainkan teguran keras.

Bagaimana mungkin sesuatu yang:

  • tidak berbicara,

  • tidak memberi petunjuk,

justru dijadikan tuhan?

Ath-Thabari menegaskan bahwa penyembahan tersebut merupakan bentuk kezaliman terhadap Allah dan terhadap diri mereka sendiri.


3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi memberikan beberapa pembahasan penting.

Tentang suara patung

Beliau menyebut beberapa pendapat ulama:

  • suara berasal dari angin,

  • suara itu merupakan ujian dari Allah,

  • bukan berarti patung itu hidup.

Pelajaran aqidah

Ayat ini menunjukkan bahwa:

  • sesembahan yang benar harus memiliki sifat ketuhanan,

  • mampu memberi petunjuk,

  • memiliki kekuasaan.

Patung anak sapi sama sekali tidak memiliki sifat tersebut.

Karena itu penyembahan terhadapnya merupakan kesyirikan yang nyata.


4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan mudahnya manusia tergelincir apabila iman tidak kokoh.

Walaupun baru saja:

  • diselamatkan dari Fir'aun,

  • menyaksikan laut terbelah,

  • melihat berbagai mukjizat,

sebagian Bani Israil tetap tergoda oleh simbol yang tampak indah.

Beliau menegaskan bahwa:

Patung itu tidak memiliki:

  • kemampuan berbicara,

  • kemampuan memberi petunjuk,

  • kekuasaan sedikit pun.

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia jangan terpesona oleh bentuk lahiriah sehingga kehilangan akal sehat dan petunjuk wahyu.


5. Tafsir Kementerian Agama RI

Menurut Tafsir Kemenag:

Setelah Nabi Musa pergi menerima wahyu, Samiri memanfaatkan keadaan untuk menyesatkan Bani Israil.

Ia membuat patung anak sapi dari emas sehingga menarik perhatian mereka.

Allah mengecam mereka karena:

  • patung itu tidak berbicara,

  • tidak memberi petunjuk,

  • tidak mempunyai kekuasaan apa pun.

Mereka tetap menyembahnya sehingga digolongkan sebagai orang-orang zalim karena meletakkan ibadah bukan pada tempatnya.


Perbandingan Kelima Ahli Tafsir

MufassirPokok Penafsiran
Ibnu KatsirSamiri membuat patung anak sapi dari emas; suara yang keluar merupakan ujian; patung tidak memiliki sifat ketuhanan.
Ath-ThabariSuara berasal dari rongga patung; Allah mencela kebodohan Bani Israil yang menyembah benda mati.
Al-QurthubiMenjelaskan berbagai pendapat tentang suara patung dan menegaskan syarat ketuhanan tidak dimiliki patung itu.
Quraish ShihabAyat menunjukkan rapuhnya iman ketika manusia lebih terpikat simbol daripada petunjuk Allah.
Kemenag RISamiri memanfaatkan kelengahan Bani Israil; penyembahan anak sapi adalah kezaliman dan penyimpangan tauhid.

Kaitan dengan Ayat Lain

  • QS. Ṭaha [20]: 85–97: Penjelasan rinci tentang Samiri, pembuatan anak sapi, dan dialog Nabi Musa dengannya.

  • QS. Al-Baqarah [2]: 51–54: Kisah Bani Israil menyembah anak sapi dan perintah bertobat.

  • QS. An-Nisa' [4]: 153: Penyembahan anak sapi disebut sebagai salah satu pelanggaran besar Bani Israil.


Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 148

  1. Tauhid harus dijaga, karena penyimpangan dapat terjadi meskipun seseorang pernah menyaksikan banyak mukjizat.

  2. Mukjizat saja tidak menjamin keimanan jika hati tidak teguh dan tidak taat kepada Allah.

  3. Jangan mengikuti pemimpin yang menyesatkan, sebagaimana Samiri menyesatkan Bani Israil.

  4. Akal sehat harus digunakan: sesuatu yang tidak dapat berbicara, memberi petunjuk, atau memberi manfaat tidak layak dijadikan sesembahan.

  5. Syirik adalah kezaliman terbesar, karena mengalihkan ibadah kepada selain Allah.

Kesimpulan

Kelima mufassir sepakat bahwa QS. Al-A'raf ayat 148 menggambarkan penyimpangan besar Bani Israil setelah kepergian Nabi Musa, ketika mereka menyembah patung anak sapi buatan Samiri. Patung itu tidak memiliki sifat ketuhanan sedikit pun—tidak dapat berbicara, memberi petunjuk, atau memberi manfaat. Ayat ini menjadi peringatan bahwa iman harus dibangun di atas wahyu dan akal yang benar, bukan pada kekaguman terhadap simbol atau benda.

AL A''''RAF' 147TAFSIR DAN AYAT TERKAIT

 

Tafsir Lengkap Surah Al-A'raf Ayat 147 (QS. 7:147)

Berdasarkan 5 Ahli Tafsir: Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Quraish Shihab, dan Tafsir Kementerian Agama RI


📖 QS. Al-A'raf Ayat 147

Teks Arab

وَٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَلِقَآءِ ٱلْـَٔاخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ ۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Terjemahan Kemenag RI

"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan (mendustakan) pertemuan di akhirat, sia-sialah amal mereka. Mereka tidak diberi balasan selain apa yang telah mereka kerjakan."


1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menerangkan akibat kesombongan. Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak percaya kepada hari akhir akan kehilangan nilai amalnya.

a. "Mendustakan ayat-ayat Kami"

Yang dimaksud adalah menolak:

  • ayat-ayat Al-Qur'an,

  • mukjizat para nabi,

  • tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta.

Penolakan itu dilakukan dengan sadar setelah datang penjelasan yang benar.

b. "Mendustakan pertemuan akhirat"

Mereka mengingkari:

  • kebangkitan,

  • hisab,

  • surga,

  • neraka,

  • balasan amal.

Karena tidak meyakini adanya pertanggungjawaban, mereka bebas mengikuti hawa nafsu.

c. "Habislah amal mereka"

Menurut Ibnu Katsir, semua amal baik orang kafir yang dilakukan tanpa iman tidak bernilai sebagai penyelamat di akhirat. Mereka mungkin memperoleh balasan di dunia—seperti pujian atau rezeki—tetapi tidak mendapat pahala akhirat.

d. "Tidak dibalas kecuali apa yang mereka kerjakan"

Allah tidak menzalimi mereka. Hukuman yang diterima sepenuhnya sesuai dengan kekufuran dan amal yang mereka lakukan.


2. Tafsir Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang yang:

  • menolak wahyu,

  • mengingkari kebangkitan,

  • mendustakan para rasul.

Makna "ḥabiṭat a‘māluhum"

Amal mereka menjadi batal karena kekufuran menghapus manfaat amal tersebut di akhirat.

Beliau menjelaskan bahwa amal tanpa iman tidak menjadi sebab keselamatan di sisi Allah.

Balasan yang adil

Kalimat:

"Mereka tidak dibalas kecuali apa yang mereka kerjakan."

menunjukkan keadilan Allah. Tidak ada tambahan hukuman di luar dosa yang mereka lakukan, dan tidak ada kezaliman dalam keputusan-Nya.


3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi membahas panjang tentang hubungan iman dan amal.

Beliau menjelaskan bahwa:

  • amal saleh harus disertai iman,

  • kekufuran menggugurkan pahala amal di akhirat.

Beliau juga menjelaskan bahwa orang kafir dapat memperoleh manfaat amalnya di dunia, misalnya:

  • kesehatan,

  • kekayaan,

  • nama baik,

  • umur panjang,

tetapi seluruh itu bukan pahala akhirat.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa keadilan Allah sempurna; setiap orang memperoleh balasan sesuai amalnya.


4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menekankan pentingnya fondasi keimanan.

Menurut beliau:

Amal baik tidak berdiri sendiri.

Amal memperoleh nilai hakiki apabila dibangun di atas:

  • iman kepada Allah,

  • keimanan kepada hari akhir,

  • keikhlasan.

Orang yang menolak hari akhir kehilangan orientasi hidup sehingga amalnya tidak mengantarkan kepada keselamatan abadi.

Beliau juga menegaskan bahwa Allah sama sekali tidak berlaku zalim; balasan diberikan secara proporsional sesuai pilihan manusia.


5. Tafsir Kementerian Agama RI

Menurut Tafsir Kemenag:

Ayat ini menjelaskan bahwa:

  • mendustakan wahyu,

  • mengingkari hari akhir,

menyebabkan amal seseorang kehilangan nilai di sisi Allah.

Mereka mungkin melakukan berbagai kebaikan, tetapi karena tidak beriman, amal itu tidak menjadi sebab memperoleh kebahagiaan akhirat.

Kalimat penutup menunjukkan bahwa Allah memberi balasan berdasarkan keadilan yang sempurna.


Perbandingan Kelima Ahli Tafsir

MufassirPokok Penafsiran
Ibnu KatsirKekufuran menghapus pahala amal di akhirat; amal baik hanya dibalas di dunia.
Ath-ThabariAmal batal karena tidak disertai iman kepada Allah dan hari akhir.
Al-QurthubiAmal saleh harus disertai iman; orang kafir dapat menerima balasan dunia, bukan akhirat.
Quraish ShihabIman menjadi fondasi nilai amal; tanpa iman, amal kehilangan orientasi menuju akhirat.
Kemenag RIPendustaan terhadap wahyu dan hari akhir menyebabkan amal tidak bernilai di sisi Allah pada kehidupan akhirat.

Kaitan dengan Ayat Lain

  • QS. Al-Kahfi [18]: 103–105: Orang yang paling rugi amalnya adalah mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya.

  • QS. Az-Zumar [39]: 65: Syirik dapat menghapus amal.

  • QS. Muhammad [47]: 32–34: Orang yang kafir dan menghalangi jalan Allah akan gugur amalnya.

  • QS. Al-Baqarah [2]: 217: Orang yang murtad lalu mati dalam kekafiran, gugurlah amalnya di dunia dan akhirat.


Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 147

  1. Keimanan kepada Allah dan hari akhir merupakan dasar diterimanya amal.

  2. Mendustakan wahyu dan hari akhir membawa kerugian yang besar di akhirat.

  3. Allah membalas setiap orang secara adil sesuai dengan amal dan pilihannya.

  4. Amal saleh hendaknya dilakukan dengan iman dan keikhlasan agar bernilai di sisi Allah.

  5. Keyakinan akan hari akhir mendorong manusia untuk bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.


Kesimpulan

Kelima mufassir sepakat bahwa QS. Al-A'raf ayat 147 menegaskan dua prinsip utama:

  1. Mendustakan ayat-ayat Allah dan mengingkari hari akhir menyebabkan gugurnya pahala amal di akhirat, karena iman merupakan syarat diterimanya amal di sisi Allah.

  2. Allah Maha Adil; setiap orang akan menerima balasan yang sesuai dengan amal dan pilihannya, tanpa sedikit pun kezaliman.

tafsir al a''raf 146

 

Tafsir Lengkap Surah Al-A'raf Ayat 146 (QS. 7:146)

Berdasarkan 5 Ahli Tafsir: Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Quraish Shihab, dan Tafsir Kementerian Agama RI


📖 QS. Al-A'raf Ayat 146

Teks Arab

سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَإِن يَرَوْا كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا ۖ وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۖ وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَٰفِلِينَ

Terjemahan Kemenag RI

"Aku akan memalingkan dari tanda-tanda (kekuasaan)-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Sekalipun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku), mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Jika mereka melihat jalan yang benar, mereka tidak menempuhnya. Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan selalu lengah terhadapnya."


1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang hukuman Allah terhadap orang-orang yang sombong.

Makna "Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku"

Allah menghalangi mereka dari memahami petunjuk sebagai akibat kesombongan mereka sendiri. Ini merupakan hukuman setelah mereka terus-menerus menolak kebenaran.

Kesombongan tanpa hak

Yang dimaksud adalah:

  • menolak kebenaran setelah mengetahuinya,

  • meremehkan manusia,

  • merasa diri paling benar.

Beliau mengutip hadis Nabi ﷺ:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi."

Kesombongan di sini bukan sekadar merasa bangga, tetapi menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Tidak menerima petunjuk

Walaupun melihat berbagai mukjizat dan bukti, mereka tetap tidak beriman karena hati mereka telah tertutup.


2. Tafsir Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah memalingkan mereka dari:

  • memahami Al-Qur'an,

  • mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah,

  • menerima hidayah.

Menurut beliau, penyebabnya bukan karena Allah menzalimi mereka, tetapi karena mereka lebih dahulu memilih kesombongan dan pendustaan.

Kalimat:

"Mereka melihat jalan petunjuk tetapi tidak menempuhnya."

berarti mereka mengetahui mana yang benar tetapi sengaja meninggalkannya.

Sebaliknya mereka memilih jalan kesesatan karena sesuai dengan hawa nafsu mereka.


3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi memberikan penjelasan yang luas mengenai penyakit takabur.

Beliau menjelaskan bahwa kesombongan terdiri atas:

  • menolak kebenaran,

  • menghina manusia,

  • merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Allah memalingkan hati mereka sebagai hukuman atas pilihan mereka sendiri.

Menurut Al-Qurthubi, ayat ini menunjukkan bahwa:

  • hidayah adalah karunia Allah,

  • tetapi kesombongan menjadi penghalang terbesar memperoleh hidayah.

Beliau juga menegaskan bahwa orang yang terus menerus menolak kebenaran akhirnya kehilangan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah.


4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan proses psikologis orang yang sombong.

Ketika seseorang terus menolak kebenaran:

  • hati menjadi keras,

  • akal menjadi tertutup,

  • bukti sebesar apa pun tidak lagi memengaruhinya.

Menurut beliau:

"Aku akan memalingkan"

bukan berarti Allah menghalangi tanpa sebab, tetapi merupakan konsekuensi dari sikap manusia sendiri yang terus menerus memilih kesombongan.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa kesesatan sering kali bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena keengganan menerima kebenaran.


5. Tafsir Kementerian Agama RI

Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa:

Orang yang sombong:

  • menolak ajaran Allah,

  • menolak nasihat,

  • tidak mau menerima kebenaran.

Akibatnya Allah mencabut kemampuan mereka mengambil manfaat dari petunjuk.

Walaupun mereka melihat tanda-tanda kebesaran Allah:

  • mereka tidak beriman,

  • mereka justru memilih jalan kesesatan.

Ayat ini menjadi peringatan bahwa kesombongan merupakan penyebab utama seseorang kehilangan hidayah.


Perbandingan Kelima Ahli Tafsir

MufassirPenjelasan Utama
Ibnu KatsirKesombongan menyebabkan hati tertutup sehingga tidak mampu menerima hidayah.
Ath-ThabariAllah memalingkan mereka sebagai balasan atas pilihan mereka sendiri yang menolak kebenaran.
Al-QurthubiTakabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia; penyakit terbesar yang menghalangi hidayah.
Quraish ShihabPenolakan terus-menerus membuat hati dan akal kehilangan kemampuan menerima kebenaran.
Kemenag RIKesombongan menyebabkan seseorang memilih kesesatan meskipun bukti telah nyata di hadapannya.

Kosakata Penting

  • سَأَصْرِفُ (Sa-ashrifu) : Aku akan memalingkan.

  • آيَاتِي (Āyātī) : Tanda-tanda atau ayat-ayat-Ku.

  • يَتَكَبَّرُونَ (Yatakabbarūn) : Berlaku sombong.

  • الرُّشْد (Ar-rusyd) : Jalan petunjuk dan kebenaran.

  • الْغَيّ (Al-ghayy) : Jalan kesesatan.

  • غَافِلُونَ (Ghāfilūn) : Orang-orang yang lalai.


Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 146

  1. Kesombongan adalah penghalang terbesar untuk menerima petunjuk Allah.

  2. Hidayah merupakan karunia Allah, tetapi manusia bertanggung jawab atas sikapnya terhadap kebenaran.

  3. Banyaknya bukti tidak akan bermanfaat bagi orang yang menolak kebenaran karena kesombongan.

  4. Orang yang terus mengikuti hawa nafsu dapat kehilangan kemampuan membedakan jalan yang benar dan yang salah.

  5. Seorang mukmin hendaknya bersikap tawaduk, menerima kebenaran dari siapa pun datangnya, dan menjauhi sikap meremehkan orang lain.

Inti ayat: QS. Al-A'raf ayat 146 mengajarkan bahwa kesombongan yang membuat seseorang menolak kebenaran akan berakibat tertutupnya hati dari hidayah Allah. Sebaliknya, kerendahan hati dan kesiapan menerima kebenaran merupakan jalan menuju petunjuk.

tafsir al A''raf '145

 Tanda yang Anda kirim hanya berupa deretan tanda petik (''''''''...).

Apakah maksud Anda ingin saya melanjutkan pembahasan QS. Al-A'raf ayat 145? Jika ya, berikut tafsir lengkapnya.


📖 Tafsir Lengkap QS. Al-A'raf Ayat 145

Ayat

وَكَتَبْنَا لَهُۥ فِى ٱلْأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَىْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِّكُلِّ شَىْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا ۚ سَأُرِيكُمْ دَارَ ٱلْفَٰسِقِينَ

Terjemahan (Kemenag RI):

"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. Maka berpegangteguhlah kepadanya dan perintahkanlah kaummu agar berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik."


1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan alwāḥ (lembaran-lembaran Taurat) kepada Nabi Musa yang berisi:

  • nasihat,

  • hukum-hukum syariat,

  • halal dan haram,

  • petunjuk kehidupan.

Kalimat "min kulli syai'" bukan berarti seluruh ilmu yang ada, tetapi segala hal yang diperlukan Bani Israil dalam menjalankan agama mereka.

Perintah "fa khudzhā bi quwwah" berarti:

  • menerima Taurat dengan kesungguhan,

  • mengamalkan tanpa malas,

  • teguh menjalankan syariat.

"Wa'mur qawmaka ya'khudzu bi ahsaniha" berarti memilih dan mengamalkan bagian-bagian syariat yang paling sempurna, seperti memaafkan lebih utama daripada membalas ketika syariat membolehkan keduanya.

"Sa urīkum dāral fāsiqīn" dipahami sebagai negeri kaum yang durhaka yang dihancurkan Allah agar menjadi pelajaran.


2. Tafsir Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa Taurat memuat:

  • hukum ibadah,

  • hukum muamalah,

  • batasan halal-haram,

  • nasihat,

  • petunjuk kehidupan.

"Min kulli syai'" berarti seluruh kebutuhan agama Bani Israil, bukan seluruh pengetahuan di alam semesta.

"Bi quwwah" berarti:

  • tekad yang kuat,

  • kesungguhan,

  • ketaatan penuh.

"Bi ahsaniha" berarti mengambil hukum-hukum yang paling baik untuk diamalkan.

"Dār al-fāsiqīn" dapat dipahami sebagai negeri umat-umat yang dibinasakan karena kefasikan mereka, sehingga menjadi peringatan bagi Bani Israil.


3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa:

Lauh-lauh Taurat merupakan karunia besar Allah kepada Musa.

Kandungannya mencakup:

  • aqidah,

  • ibadah,

  • akhlak,

  • hukum pidana,

  • hukum sosial.

Beliau menafsirkan "bi quwwah" sebagai kesungguhan lahir dan batin.

Sedangkan "bi ahsaniha" berarti memilih amal yang paling utama ketika terdapat beberapa pilihan yang dibolehkan syariat.

Tentang "dār al-fāsiqīn", beliau menyebut beberapa pendapat ulama:

  • negeri Fir'aun,

  • negeri kaum yang dibinasakan,

  • atau tempat kehancuran orang-orang yang durhaka secara umum.


4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Taurat adalah pedoman hidup yang lengkap bagi masyarakat Bani Israil.

Ungkapan "mau'izhah" menunjukkan bahwa hukum Allah bukan sekadar aturan, tetapi juga pendidikan moral.

"Tafshīlan li kulli syai'" berarti penjelasan lengkap mengenai kebutuhan syariat mereka.

Perintah "fa khudzhā bi quwwah" mengandung pesan agar seorang pemimpin menjadi teladan dalam menjalankan wahyu.

Sedangkan "wa'mur qawmaka ya'khudzu bi ahsaniha" mengajarkan umat untuk selalu memilih sikap yang paling mulia, bukan sekadar yang paling mudah.


5. Tafsir Kementerian Agama RI

Kemenag menjelaskan bahwa Allah menuliskan dalam Taurat:

  • ajaran tauhid,

  • hukum ibadah,

  • hukum sosial,

  • nasihat,

  • pedoman kehidupan Bani Israil.

Perintah kepada Musa agar memegang Taurat dengan kuat menunjukkan bahwa wahyu harus dilaksanakan dengan penuh komitmen.

Perintah kepada Bani Israil agar mengambil yang terbaik mengajarkan semangat ihsan, yaitu menjalankan ajaran Allah dengan kualitas terbaik.

Ancaman memperlihatkan negeri orang-orang fasik menjadi pelajaran bahwa siapa pun yang menolak petunjuk Allah akan memperoleh akibat buruk.


Perbandingan 5 Ahli Tafsir

MufassirPokok Penafsiran
Ibnu KatsirTaurat berisi syariat, nasihat, halal-haram; Musa diperintah berpegang teguh dan mengajarkan yang terbaik.
Ath-Thabari"Min kulli syai'" berarti seluruh kebutuhan agama Bani Israil; "bi quwwah" berarti kesungguhan total.
Al-QurthubiMenjelaskan kandungan Taurat dan pentingnya memilih amal yang paling utama (ahsaniha).
Quraish ShihabWahyu adalah pedoman moral dan hukum; pemimpin harus menjadi teladan dalam mengamalkan wahyu.
Kemenag RITaurat menjadi pedoman hidup; ayat menekankan komitmen terhadap wahyu dan mengambil jalan terbaik.

Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 145

  1. Wahyu adalah pedoman hidup yang lengkap sesuai kebutuhan umat.

  2. Ilmu agama harus diamalkan dengan sungguh-sungguh.

  3. Seorang pemimpin wajib mengajarkan syariat melalui keteladanan.

  4. Islam mendorong memilih amal yang paling baik (al-ahsan), bukan sekadar yang boleh.

  5. Kehancuran umat-umat terdahulu menjadi pelajaran agar tidak mengulangi kefasikan dan pembangkangan terhadap Allah.

Jumat, 12 Juni 2026

AL A'RAF 141: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir Berbobot QS. Al-A‘rāf Ayat 141 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ الْعَذَابِ يُقَتِّلُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

Wa idz anjainākum min āli fir‘auna yasūmūnakum sū'a al-‘adzāb, yuqattilūna abnā'akum wa yastaḥyūna nisā'akum, wa fī dzālikum balā'un min rabbikum ‘aẓīm.

Artinya

"Dan (ingatlah), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) para pengikut Fir'aun; mereka menimpakan kepadamu azab yang sangat buruk: mereka membunuh anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."
(QS. Al-A‘rāf: 141)


Munāsabah (Keterkaitan Ayat)

Pada ayat sebelumnya (QS. Al-A‘rāf: 140), Nabi Musa mengingatkan Bani Israil tentang keutamaan dan nikmat Allah kepada mereka. Ayat 141 menjelaskan secara rinci salah satu nikmat terbesar tersebut, yaitu penyelamatan dari penindasan Fir'aun.

Allah seakan berfirman:

"Bagaimana mungkin kalian mencari sesembahan selain Allah, padahal Dia-lah yang menyelamatkan kalian dari penderitaan yang sangat berat?"

Dengan demikian, ayat ini merupakan dalil tauhid melalui pengingatan terhadap sejarah pertolongan Allah.


Tafsir Berbobot

1. Nikmat Keselamatan adalah Nikmat yang Agung

Allah berfirman:

وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ

"Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya."

Penyelamatan ini bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga:

  • terbebas dari perbudakan,

  • terbebas dari penghinaan,

  • terbebas dari ancaman pemusnahan generasi,

  • memperoleh kebebasan untuk beribadah kepada Allah.

Pelajaran:

Salah satu bentuk syukur terbesar adalah mengingat pertolongan Allah pada masa-masa sulit.


2. Kekuasaan yang Zalim Merusak Kemanusiaan

Allah berfirman:

يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ الْعَذَابِ

"Mereka menimpakan kepadamu azab yang sangat buruk."

Kata يَسُومُونَكُمْ bermakna:

"Terus-menerus menimpakan, memaksa, dan memperlakukan dengan kejam."

Menurut para mufasir, Fir'aun menjadikan Bani Israil sebagai kaum tertindas melalui kerja paksa, penghinaan, dan penyiksaan sistematis.

Ini menunjukkan bahwa:

Kekuasaan yang tidak dibimbing oleh nilai ketuhanan akan mudah berubah menjadi alat penindasan.


3. Pembunuhan Generasi sebagai Puncak Kezaliman

Allah berfirman:

يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ

"Mereka membunuh anak-anak laki-lakimu."

Menurut tafsir, Fir'aun mendapat informasi bahwa akan lahir seorang anak dari Bani Israil yang menyebabkan runtuhnya kerajaannya. Karena itu, ia memerintahkan pembunuhan terhadap bayi laki-laki Bani Israil.

Tindakan ini menunjukkan:

  • ketakutan penguasa zalim terhadap hilangnya kekuasaan,

  • hilangnya rasa kemanusiaan,

  • pengorbanan nyawa demi ambisi politik.


4. Makna "Membiarkan Hidup Perempuan"

Allah berfirman:

وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ

"Dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu."

Maksudnya bukan memuliakan mereka, tetapi membiarkan mereka hidup untuk dijadikan:

  • pelayan,

  • pekerja paksa,

  • objek penghinaan sosial.

Dengan demikian, baik pembunuhan anak laki-laki maupun membiarkan perempuan hidup dalam penindasan merupakan bentuk kezaliman.


5. Ujian dalam Nikmat dan Musibah

Allah berfirman:

وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

"Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."

Para ulama menjelaskan bahwa balā' berarti ujian.

Sebagian mufasir memahami:

  • penderitaan di bawah Fir'aun adalah ujian,

  • keselamatan dari Fir'aun juga merupakan ujian.

Karena itu:

Bukan hanya kesulitan yang menguji manusia, tetapi juga pertolongan dan nikmat yang diterimanya.

Apakah seseorang bersabar ketika diuji dengan kesusahan, dan apakah ia bersyukur ketika diberi keselamatan.


Tafsir Para Ulama

a. Tafsir At-Ṭabari

Muhammad ibn Jarir al-Tabari menjelaskan bahwa:

Allah mengingatkan Bani Israil tentang penderitaan masa lalu agar mereka menyadari besarnya nikmat keselamatan dan tidak berpaling dari tauhid.


b. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menyatakan:

Pembunuhan bayi laki-laki dan membiarkan perempuan hidup merupakan bentuk penghinaan paling berat yang dilakukan Fir'aun terhadap Bani Israil.


c. Tafsir As-Sa‘di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan:

Mengingat nikmat penyelamatan akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah, rasa syukur, dan keteguhan dalam beribadah kepada-Nya.


Ayat-Ayat Terkait

1. QS. Al-Baqarah: 49

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya yang menimpakan kepadamu azab yang sangat berat; mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup perempuan-perempuanmu. Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."

Keterkaitan

Ayat ini hampir identik dengan QS. Al-A‘rāf: 141, sebagai penguatan agar nikmat keselamatan tidak dilupakan.


2. QS. Ibrahim: 6

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنْجَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ...

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya....'"

Keterkaitan

Nabi Musa menjadikan sejarah pertolongan Allah sebagai sarana pendidikan iman.


3. QS. Al-Qashash: 4

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

"Sungguh, Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah. Dia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."

Keterkaitan

Ayat ini menjelaskan akar kezaliman Fir'aun: kesombongan dan penyalahgunaan kekuasaan.


4. QS. An-Nahl: 78

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا...

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun..."

Keterkaitan

Kehidupan adalah nikmat dari Allah yang wajib dijaga. Pembunuhan terhadap anak-anak merupakan pelanggaran besar terhadap hak hidup yang Allah berikan.


Hikmah dan Pelajaran

  1. Mengingat pertolongan Allah memperkuat tauhid dan rasa syukur.

  2. Kezaliman yang dibiarkan dapat menghancurkan nilai kemanusiaan.

  3. Kekuasaan tanpa iman mudah berubah menjadi penindasan.

  4. Ujian tidak selalu berupa musibah; keselamatan dan nikmat pun merupakan ujian.

  5. Sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar kisah, tetapi sarana pendidikan akidah, moral, dan keteguhan iman.


Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 141 mengingatkan bahwa Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari penindasan Fir'aun yang sangat kejam. Nikmat keselamatan itu seharusnya melahirkan syukur, ketaatan, dan kemurnian tauhid, bukan justru melupakan Allah dan mencari sesembahan selain-Nya.

"Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap fase kehidupan—baik penderitaan maupun pertolongan—adalah ujian yang bertujuan mendidik manusia agar semakin dekat kepada Allah, teguh dalam iman, dan bersyukur atas nikmat-Nya.

AL A'RAF 140: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir Berkualitas QS. Al-A‘rāf Ayat 140 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Qāla aghaira Allāhi abghīkum ilāhan wa huwa faḍḍalakum ‘alā al-‘ālamīn.

Artinya

"Dia (Musa) berkata, 'Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)?'"
(QS. Al-A‘rāf: 140)


Munāsabah (Keterkaitan Ayat)

Ayat ini merupakan lanjutan dari QS. Al-A‘rāf: 138–139.

  • Pada ayat 138, Bani Israil meminta dibuatkan sesembahan sebagaimana kaum penyembah berhala.

  • Pada ayat 139, Nabi Musa menjelaskan bahwa sesembahan selain Allah adalah kebatilan yang pasti binasa.

  • Pada ayat 140, Nabi Musa menegaskan bahwa permintaan tersebut bertentangan dengan akal sehat, fitrah, dan nikmat besar yang telah Allah berikan kepada mereka.

Dengan demikian, ayat ini mengandung argumentasi tauhid melalui nikmat (dalīl an-ni‘mah).


Tafsir Berkualitas

1. Pertanyaan yang Mengandung Pengingkaran

Allah berfirman:

أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا

"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah?"

Menurut para ahli tafsir, bentuk pertanyaan ini disebut istifhām inkārī, yaitu pertanyaan untuk menolak dan mengecam.

Maksudnya:

Sangat tidak pantas mencari sesembahan selain Allah setelah mengetahui bukti-bukti keagungan-Nya.

Nabi Musa tidak sekadar mengatakan "tidak", tetapi membimbing mereka agar berpikir:

  • Siapa yang menyelamatkan kalian?

  • Siapa yang membelah laut?

  • Siapa yang menghancurkan Fir'aun?

  • Lalu mengapa mencari sesembahan selain-Nya?


2. Nikmat Menuntut Syukur dan Tauhid

Allah berfirman:

وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat."

Maksudnya, Allah memberikan berbagai keutamaan kepada Bani Israil pada masa itu, di antaranya:

  • Diutus para nabi dari kalangan mereka.

  • Diselamatkan dari penindasan Fir'aun.

  • Diberi mukjizat melalui Nabi Musa.

  • Diberi rezeki manna dan salwa.

  • Diberi petunjuk melalui Taurat.

Tafsir Para Ulama

a. Tafsir At-Ṭabari

Muhammad ibn Jarir al-Tabari menjelaskan bahwa:

Keutamaan tersebut adalah kelebihan yang Allah berikan kepada Bani Israil dibanding umat-umat pada zaman mereka, bukan atas seluruh umat sepanjang sejarah.


b. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menerangkan:

Allah mengingatkan mereka terhadap nikmat penyelamatan dan berbagai karunia agar mereka malu meminta sesembahan selain Allah.

Nikmat seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan pembangkangan.


c. Tafsir As-Sa‘di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan:

Di antara bentuk kebodohan terbesar adalah melupakan nikmat Allah lalu berpaling kepada selain-Nya.

Tauhid tumbuh melalui pengenalan terhadap karunia Allah.


Ayat-Ayat Terkait

1. QS. Al-Baqarah: 47

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)."

Keterkaitan

Ayat ini menegaskan kembali bahwa nikmat Allah merupakan alasan untuk tetap teguh dalam tauhid dan ketaatan.


2. QS. Ibrahim: 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat berat."

Keterkaitan

Meminta sesembahan selain Allah setelah menerima nikmat-Nya merupakan bentuk pengingkaran terhadap nikmat tersebut.


3. QS. An-Nahl: 53

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

"Dan segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah."

Keterkaitan

Karena seluruh nikmat berasal dari Allah, maka hanya Dia yang berhak disembah.


4. QS. Luqman: 14

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ

"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu."

Keterkaitan

Syukur bukan hanya ucapan, tetapi diwujudkan dengan ketaatan dan menjaga kemurnian tauhid.


5. QS. Az-Zukhruf: 87

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

"Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka?' niscaya mereka akan menjawab, 'Allah.'"

Keterkaitan

Mengakui Allah sebagai Pencipta tidak cukup apabila ibadah masih dipersembahkan kepada selain-Nya. Tauhid harus mencakup pengesaan Allah dalam ibadah.


Hikmah dan Pelajaran

1. Tauhid adalah konsekuensi dari mengenal nikmat Allah.

Semakin seseorang menyadari karunia Allah, semakin besar dorongan untuk beribadah hanya kepada-Nya.

2. Syukur sejati diwujudkan dengan ketaatan.

Bukan sekadar ucapan, tetapi menjaga kemurnian akidah dan menjauhi syirik.

3. Nikmat tidak menjamin keselamatan.

Bani Israil menerima banyak karunia, namun tetap dapat tergelincir ketika lalai menjaga iman.

4. Mengingat nikmat adalah sarana menjaga keimanan.

Merenungkan pertolongan Allah dapat memperkuat keteguhan hati.

5. Kebenaran harus diterima dengan akal yang tunduk kepada wahyu.

Nabi Musa mengajak kaumnya berpikir secara logis sekaligus tunduk kepada petunjuk Allah.


Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 140 mengajarkan bahwa tidak ada alasan untuk mencari sesembahan selain Allah, karena hanya Allah yang menciptakan, menyelamatkan, memberi petunjuk, dan melimpahkan nikmat kepada manusia. Nikmat yang besar semestinya melahirkan syukur, ketundukan, dan tauhid yang murni.

"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat?"

Ayat ini menjadi pengingat bahwa mengingat nikmat Allah adalah benteng yang menjaga hati dari kesyirikan dan mengokohkan seorang hamba di atas jalan tauhid.

AL A'RAF 139: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir QS. Al-A‘rāf Ayat 139 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Inna hā'ulā'i mutabbarun mā hum fīhi wa bāṭilun mā kānū ya‘malūn.

Artinya

"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan apa yang mereka anut, dan batil apa yang selalu mereka kerjakan."
(QS. Al-A‘rāf: 139)


Munasabah (Keterkaitan dengan Ayat Sebelumnya)

Pada ayat 138, Bani Israil meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan sesembahan sebagaimana kaum penyembah berhala yang mereka lihat.

Maka pada ayat 139 ini, Nabi Musa menjelaskan alasan penolakannya. Beliau menerangkan bahwa segala bentuk ibadah kepada selain Allah adalah kebatilan yang pasti berakhir dengan kehancuran.


Tafsir Ayat

1. Makna "مُتَبَّرٌ" (Mutabbar)

Kata:

مُتَبَّرٌ

berasal dari akar kata تَبَرَ yang berarti:

  • binasa,

  • hancur,

  • rusak total,

  • musnah tanpa tersisa.

Maksudnya:

Semua sistem keyakinan yang dibangun di atas kesyirikan pasti menuju kehancuran.

Baik kehancuran hujjah (argumentasi), amal, maupun akibatnya di akhirat.


2. Kebatilan Tidak Memiliki Hakikat

Allah berfirman:

وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Dan batil apa yang mereka kerjakan."

Menurut para mufasir:

Yang dimaksud adalah:

  • penyembahan berhala,

  • ritual syirik,

  • pengagungan terhadap sesembahan selain Allah.

Disebut batil karena:

  • tidak memiliki dasar kebenaran,

  • tidak mendatangkan manfaat,

  • tidak dapat menolak mudarat,

  • tidak diterima oleh Allah.


3. Tafsir Para Ulama

a. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menjelaskan:

"Apa yang dilakukan kaum penyembah berhala itu akan hancur, lenyap, dan sia-sia. Semua amal mereka tidak bernilai karena dibangun di atas kesyirikan."

Beliau mengaitkan ayat ini dengan batalnya seluruh amal yang tercampuri syirik.


b. Tafsir At-Tabari

Muhammad ibn Jarir al-Tabari menerangkan:

"Musa mengabarkan bahwa sesembahan mereka tidak dapat memberi manfaat sedikit pun. Apa yang mereka bangun akan dihancurkan Allah."

Ayat ini merupakan bantahan rasional terhadap penyembahan selain Allah.


c. Tafsir As-Sa'di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan:

"Kebatilan mungkin tampak indah di mata manusia, tetapi hakikatnya tetap rusak dan akan sirna."

Ini menunjukkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah penampilan luar atau tradisi yang diwariskan.


Ayat-Ayat Terkait

1. QS. Al-Isrā': 81

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

"Dan katakanlah: Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap."

Keterkaitan

QS. Al-A‘rāf: 139 menegaskan kebatilan ibadah syirik, sedangkan ayat ini menjelaskan sifat umum kebatilan: ia tidak akan bertahan di hadapan kebenaran.


2. QS. Az-Zumar: 65

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugurlah amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang rugi."

Keterkaitan

Kesyirikan menyebabkan amal menjadi sia-sia dan tidak bernilai di sisi Allah.


3. QS. Luqman: 13

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar."

Keterkaitan

Penyebab kebinasaan amal dalam QS. Al-A‘rāf: 139 adalah karena syirik merupakan kezaliman terbesar terhadap hak Allah.


4. QS. Al-Hajj: 73

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ

"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun meskipun mereka bersatu untuk menciptakannya."

Keterkaitan

Ayat ini menunjukkan kelemahan sesembahan selain Allah dan membatalkan alasan untuk menyembahnya.


5. QS. Al-Kahfi: 103–104

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ۝ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

"Katakanlah: Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya."

Keterkaitan

Tidak semua amal yang tampak baik diterima. Amal yang dibangun di atas kebatilan akan menjadi kerugian.


Hikmah dan Pelajaran

1. Kebatilan mungkin tampak menarik, tetapi hakikatnya rapuh.

Apa yang tidak dibangun di atas petunjuk Allah pasti akan runtuh.

2. Amal saleh harus disertai tauhid.

Keikhlasan dan ketauhidan merupakan syarat diterimanya amal.

3. Tradisi bukan ukuran kebenaran.

Banyaknya pelaku suatu perbuatan tidak menjadikannya benar.

4. Seorang mukmin harus menilai dengan wahyu.

Penilaian Allah lebih utama daripada penilaian manusia.

5. Kebenaran pada akhirnya akan menang.

Sebagaimana kebatilan pasti sirna, seorang mukmin hendaknya tetap teguh di atas kebenaran meskipun tampak asing.


Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 139 merupakan penegasan Nabi Musa bahwa segala bentuk ibadah yang tidak ditujukan kepada Allah adalah kebatilan yang pasti berujung pada kehancuran. Ayat ini mengajarkan bahwa nilai suatu amal tidak ditentukan oleh popularitas, tradisi, atau kesungguhan pelakunya, tetapi oleh kesesuaiannya dengan tauhid dan petunjuk Allah.

"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan apa yang mereka anut, dan batil apa yang mereka kerjakan."

Ayat ini menjadi prinsip besar dalam Islam: kebenaran bersumber dari wahyu, sedangkan kebatilan—sekuat apa pun tampaknya—pada akhirnya akan lenyap.

AL A'RAF 138: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir Surat Al-A‘rāf Ayat 138 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Wa jāwaznā bibanī isrā'īlal-baḥra fa ataw 'alā qaumin ya‘kufūna 'alā aṣnāmil lahum, qālū yā mūsaj‘al lanā ilāhan kamā lahum ālihah, qāla innakum qaumun tajhalūn.

Artinya:

"Dan Kami seberangkan Bani Israil melintasi laut itu. Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala-berhala mereka, berkatalah Bani Israil, 'Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.' Musa menjawab, 'Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui.'"
(QS. Al-A‘rāf: 138)


Tafsir Ayat

1. Latar belakang ayat

Ayat ini terjadi setelah Allah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Fir'aun dengan membelah laut. Mereka baru saja menyaksikan mukjizat besar, namun ketika melihat suatu kaum yang menyembah patung, mereka justru meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan sesembahan seperti itu.

Hal ini menunjukkan bahwa:

  • Keimanan yang belum kuat mudah terpengaruh lingkungan.

  • Kebiasaan syirik yang lama dapat membekas dalam jiwa.

  • Mukjizat tidak selalu melahirkan keteguhan iman jika hati tidak dibina dengan ilmu.


2. Tafsir para ulama

a. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menjelaskan bahwa Bani Israil baru keluar dari lingkungan penyembah berhala di Mesir. Ketika melihat kaum lain beribadah kepada patung, mereka terpesona dan meminta hal serupa kepada Musa.

Beliau menegaskan bahwa ucapan itu merupakan kebodohan besar, meskipun mereka belum bermaksud keluar dari Islam secara sadar.

b. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurtubi menerangkan bahwa permintaan tersebut menunjukkan lemahnya pemahaman tauhid. Karena itu Musa berkata:

إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

"Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh."

Yakni bodoh terhadap keagungan Allah dan hak-Nya untuk disembah semata.

c. Tafsir As-Sa'di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa seseorang yang tidak memiliki ilmu syar'i akan mudah menganggap kebatilan sebagai sesuatu yang baik hanya karena banyak dilakukan orang.


Pelajaran (Fawaid) dari Ayat

1. Pentingnya ilmu tauhid

Keajaiban dan pengalaman spiritual saja tidak cukup tanpa ilmu.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

"Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah."

(QS. Muhammad: 19)


2. Jangan tertipu oleh banyaknya pengikut kebatilan

Sesuatu tidak menjadi benar hanya karena populer.

Allah berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

"Jika engkau menuruti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah."

(QS. Al-An‘ām: 116)


3. Syirik merupakan kezaliman terbesar

Allah berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar."

(QS. Luqman: 13)


4. Wajib mengingkari kemungkaran dengan ilmu

Nabi Musa tidak membiarkan permintaan itu, tetapi langsung meluruskannya.

Beliau berkata:

إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

"Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui."

Ini menunjukkan kewajiban para pendidik dan ulama untuk menjelaskan kesalahan dengan hikmah dan ilmu.


Ayat-Ayat Terkait

QS. Al-A‘rāf: 139

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya, dan batil apa yang mereka kerjakan."

Musa menjelaskan bahwa ibadah kepada berhala pasti sia-sia.


QS. Al-A‘rāf: 140

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)?"

Nikmat Allah semestinya melahirkan syukur dan tauhid, bukan mencari sesembahan selain-Nya.


QS. Al-Baqarah: 51

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ

"Kemudian kamu menjadikan anak sapi (sebagai sesembahan) setelah Musa pergi, padahal kamu adalah orang-orang zalim."

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa penyakit kecenderungan kepada syirik harus diobati dengan pendidikan iman yang berkelanjutan.


Hikmah

  1. Tauhid harus dipelajari dan diajarkan sejak dini.

  2. Lingkungan dapat memengaruhi cara berpikir seseorang.

  3. Tidak semua tradisi masyarakat layak diikuti.

  4. Seorang mukmin harus menimbang segala sesuatu dengan wahyu, bukan sekadar kebiasaan atau mayoritas.

  5. Nikmat Allah seharusnya menambah ketaatan, bukan melahirkan kelalaian.

Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 138 mengajarkan bahwa bahaya terbesar setelah memperoleh nikmat hidayah adalah kebodohan terhadap tauhid. Bani Israil yang baru saja diselamatkan Allah masih tergoda oleh simbol-simbol kesyirikan karena lemahnya pemahaman. Oleh karena itu, iman harus dibangun di atas ilmu, keteguhan, dan sikap kritis terhadap segala bentuk penyimpangan dari ajaran Allah.

Selasa, 17 Februari 2026

𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗻𝗴𝗲𝗰𝗲𝘄𝗮𝗶𝗻, 𝗔𝗹𝗹𝗼𝗵 𝘁𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵

‎وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ​ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ​ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا‏ "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." ( Q.S. At-Talaq (65):3 )

𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣: 𝗟𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 & 𝗹𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻!


‎اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ "Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri." ( QS. Al-Isra : 7 )

𝗞𝗮𝗹𝗮𝘂 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗵𝗶𝘁 𝗱𝗶𝘀𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻, 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝘁𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴?

Belajar lepaskan. Belajar berbaik sangka. Pasti ada rahasia Alloh dibalik setiap kepahitan. وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." ( QS. Asy-Syura : 43 )

Semua yang kita alami ada di dalam Al-Qur'an:*

*ketika putus asa:* Surah Yusuf (87) *ketika insecure:* Surah Ali Imran (139) *ketika sedih:* Surah Al Baqarah (25) *ketika difitnah/dihina:* Surah Yassin (76) *ketika tertekan:* Surah Ar Rad (28) *ketika kesusahan:* Surah Al Insyirah (5) *ketika berdosa:* Surah Az Zumar (53) *ketika tidak di hargai:* Surah Al insan (22) Ingat! Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗶 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿, 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗸𝗮𝗹 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴

‎وَمَا هٰذِهِ الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَاۤ اِلَّا لَهۡوٌ وَّلَعِبٌ​ؕ وَاِنَّ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ لَهِىَ الۡحَـيَوَانُ​ۘ لَوۡ كَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ‏ "Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." ( QS. Al-Ankabut : 64 )

Tafsir dan makna hawqalah

Inilah tafsir kalimat hawqalah لاحول ولا قوة الا بالله berdasarkan hadits shahih riwayat al-Bazzar : اي لا حول عن معصية الله الا بعصمة الله، Tidak ada daya upaya (seseorang) untuk selamat (yakni terhindar) dari perkara maksiat (dosa), kecuali dengan pemeliharaan Allah. ولا قوة على طاعة الله الا بعون الله. dan tidak ada daya kekuatan (atas seseorang) untuk berbuat ketaatan kecuali karena ia mendapatkan pertolongan Allah.

Jangan Jadikan Orang Kafir Sebagai Orang Kepercayaan Dan Pemimpin

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28) Ibnu Abbas radhiallahu’anhu menjelaskan makna ayat ini:

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kaum mu’minin untuk menjadikan orang kafir sebagai walijah (orang dekat, orang kepercayaan) padahal ada orang mu’min. Kecuali jika orang-orang kafir menguasai mereka, sehingga kaum mu’minin menampakkan kebaikan pada mereka dengan tetap menyelisihi mereka dalam masalah agama. Inilah mengapa Allah Ta’ala berfirman: ‘kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka‘” (Tafsir Ath Thabari, 6825). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (QS. Al Maidah: 51) Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini:

“Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya. Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mu’min yang melanggar larangan ini Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim“” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132). Lalu Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’. Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’. Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’. Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘pecat dia!’. Umar lalu membacakan ayat: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132). Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin.

gar Ibadah Kurban Kita Diterima oleh Allah

🍂 Di dalam Al-Qur'an, Allah mengkisahkan dua putra Nabi Adam melakukan ibadah yang sama namun hanya satu yang diterima oleh Allah. “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu’. Dan berkata yang diterima kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’” [QS Al-Maidah: 27] 🍒 Di dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya, ataupun darah-darahnya (kurban). Akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari (hati) kalian.” [QS Al-Hajj: 37] 📒 Ketaatan yang hakiki bukan terletak pada gerakan anggota badan atau ucapan di lisan saja. Lebih daripada itu, ketaatan yang sejati adalah yang berakar dari dalam dada. Ketaatan yang tumbuh dari keikhlasan niat, kelurusan aqidah, dan berada di dalam koridor syari’at. 📚 Ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan haruslah ikhlas hanya untuk Allah semata, sebagaimana firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah (untuk Rabbmu).” [QS Al-Kautsar: 2] Demikian pula Rasulullah pernah bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih kurban kepada selain Allah.” [HR Muslim]