Cari Blog Ini

Jumat, 12 Juni 2026

AL A'RAF 141: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir Berbobot QS. Al-A‘rāf Ayat 141 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ الْعَذَابِ يُقَتِّلُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

Wa idz anjainākum min āli fir‘auna yasūmūnakum sū'a al-‘adzāb, yuqattilūna abnā'akum wa yastaḥyūna nisā'akum, wa fī dzālikum balā'un min rabbikum ‘aẓīm.

Artinya

"Dan (ingatlah), ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir'aun dan) para pengikut Fir'aun; mereka menimpakan kepadamu azab yang sangat buruk: mereka membunuh anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."
(QS. Al-A‘rāf: 141)


Munāsabah (Keterkaitan Ayat)

Pada ayat sebelumnya (QS. Al-A‘rāf: 140), Nabi Musa mengingatkan Bani Israil tentang keutamaan dan nikmat Allah kepada mereka. Ayat 141 menjelaskan secara rinci salah satu nikmat terbesar tersebut, yaitu penyelamatan dari penindasan Fir'aun.

Allah seakan berfirman:

"Bagaimana mungkin kalian mencari sesembahan selain Allah, padahal Dia-lah yang menyelamatkan kalian dari penderitaan yang sangat berat?"

Dengan demikian, ayat ini merupakan dalil tauhid melalui pengingatan terhadap sejarah pertolongan Allah.


Tafsir Berbobot

1. Nikmat Keselamatan adalah Nikmat yang Agung

Allah berfirman:

وَإِذْ أَنْجَيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ

"Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya."

Penyelamatan ini bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi juga:

  • terbebas dari perbudakan,

  • terbebas dari penghinaan,

  • terbebas dari ancaman pemusnahan generasi,

  • memperoleh kebebasan untuk beribadah kepada Allah.

Pelajaran:

Salah satu bentuk syukur terbesar adalah mengingat pertolongan Allah pada masa-masa sulit.


2. Kekuasaan yang Zalim Merusak Kemanusiaan

Allah berfirman:

يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ الْعَذَابِ

"Mereka menimpakan kepadamu azab yang sangat buruk."

Kata يَسُومُونَكُمْ bermakna:

"Terus-menerus menimpakan, memaksa, dan memperlakukan dengan kejam."

Menurut para mufasir, Fir'aun menjadikan Bani Israil sebagai kaum tertindas melalui kerja paksa, penghinaan, dan penyiksaan sistematis.

Ini menunjukkan bahwa:

Kekuasaan yang tidak dibimbing oleh nilai ketuhanan akan mudah berubah menjadi alat penindasan.


3. Pembunuhan Generasi sebagai Puncak Kezaliman

Allah berfirman:

يُقَتِّلُونَ أَبْنَاءَكُمْ

"Mereka membunuh anak-anak laki-lakimu."

Menurut tafsir, Fir'aun mendapat informasi bahwa akan lahir seorang anak dari Bani Israil yang menyebabkan runtuhnya kerajaannya. Karena itu, ia memerintahkan pembunuhan terhadap bayi laki-laki Bani Israil.

Tindakan ini menunjukkan:

  • ketakutan penguasa zalim terhadap hilangnya kekuasaan,

  • hilangnya rasa kemanusiaan,

  • pengorbanan nyawa demi ambisi politik.


4. Makna "Membiarkan Hidup Perempuan"

Allah berfirman:

وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ

"Dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu."

Maksudnya bukan memuliakan mereka, tetapi membiarkan mereka hidup untuk dijadikan:

  • pelayan,

  • pekerja paksa,

  • objek penghinaan sosial.

Dengan demikian, baik pembunuhan anak laki-laki maupun membiarkan perempuan hidup dalam penindasan merupakan bentuk kezaliman.


5. Ujian dalam Nikmat dan Musibah

Allah berfirman:

وَفِي ذَٰلِكُمْ بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

"Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."

Para ulama menjelaskan bahwa balā' berarti ujian.

Sebagian mufasir memahami:

  • penderitaan di bawah Fir'aun adalah ujian,

  • keselamatan dari Fir'aun juga merupakan ujian.

Karena itu:

Bukan hanya kesulitan yang menguji manusia, tetapi juga pertolongan dan nikmat yang diterimanya.

Apakah seseorang bersabar ketika diuji dengan kesusahan, dan apakah ia bersyukur ketika diberi keselamatan.


Tafsir Para Ulama

a. Tafsir At-Ṭabari

Muhammad ibn Jarir al-Tabari menjelaskan bahwa:

Allah mengingatkan Bani Israil tentang penderitaan masa lalu agar mereka menyadari besarnya nikmat keselamatan dan tidak berpaling dari tauhid.


b. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menyatakan:

Pembunuhan bayi laki-laki dan membiarkan perempuan hidup merupakan bentuk penghinaan paling berat yang dilakukan Fir'aun terhadap Bani Israil.


c. Tafsir As-Sa‘di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan:

Mengingat nikmat penyelamatan akan menumbuhkan kecintaan kepada Allah, rasa syukur, dan keteguhan dalam beribadah kepada-Nya.


Ayat-Ayat Terkait

1. QS. Al-Baqarah: 49

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِي ذَٰلِكُم بَلَآءٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ

"Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya yang menimpakan kepadamu azab yang sangat berat; mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup perempuan-perempuanmu. Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."

Keterkaitan

Ayat ini hampir identik dengan QS. Al-A‘rāf: 141, sebagai penguatan agar nikmat keselamatan tidak dilupakan.


2. QS. Ibrahim: 6

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ أَنْجَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ...

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, 'Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelamatkan kamu dari Fir'aun dan pengikut-pengikutnya....'"

Keterkaitan

Nabi Musa menjadikan sejarah pertolongan Allah sebagai sarana pendidikan iman.


3. QS. Al-Qashash: 4

إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِي الْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ ۚ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

"Sungguh, Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah. Dia menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup perempuan-perempuan mereka. Sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan."

Keterkaitan

Ayat ini menjelaskan akar kezaliman Fir'aun: kesombongan dan penyalahgunaan kekuasaan.


4. QS. An-Nahl: 78

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا...

"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun..."

Keterkaitan

Kehidupan adalah nikmat dari Allah yang wajib dijaga. Pembunuhan terhadap anak-anak merupakan pelanggaran besar terhadap hak hidup yang Allah berikan.


Hikmah dan Pelajaran

  1. Mengingat pertolongan Allah memperkuat tauhid dan rasa syukur.

  2. Kezaliman yang dibiarkan dapat menghancurkan nilai kemanusiaan.

  3. Kekuasaan tanpa iman mudah berubah menjadi penindasan.

  4. Ujian tidak selalu berupa musibah; keselamatan dan nikmat pun merupakan ujian.

  5. Sejarah dalam Al-Qur'an bukan sekadar kisah, tetapi sarana pendidikan akidah, moral, dan keteguhan iman.


Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 141 mengingatkan bahwa Allah telah menyelamatkan Bani Israil dari penindasan Fir'aun yang sangat kejam. Nikmat keselamatan itu seharusnya melahirkan syukur, ketaatan, dan kemurnian tauhid, bukan justru melupakan Allah dan mencari sesembahan selain-Nya.

"Pada yang demikian itu terdapat cobaan yang besar dari Tuhanmu."

Ayat ini mengajarkan bahwa setiap fase kehidupan—baik penderitaan maupun pertolongan—adalah ujian yang bertujuan mendidik manusia agar semakin dekat kepada Allah, teguh dalam iman, dan bersyukur atas nikmat-Nya.

AL A'RAF 140: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir Berkualitas QS. Al-A‘rāf Ayat 140 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

Qāla aghaira Allāhi abghīkum ilāhan wa huwa faḍḍalakum ‘alā al-‘ālamīn.

Artinya

"Dia (Musa) berkata, 'Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)?'"
(QS. Al-A‘rāf: 140)


Munāsabah (Keterkaitan Ayat)

Ayat ini merupakan lanjutan dari QS. Al-A‘rāf: 138–139.

  • Pada ayat 138, Bani Israil meminta dibuatkan sesembahan sebagaimana kaum penyembah berhala.

  • Pada ayat 139, Nabi Musa menjelaskan bahwa sesembahan selain Allah adalah kebatilan yang pasti binasa.

  • Pada ayat 140, Nabi Musa menegaskan bahwa permintaan tersebut bertentangan dengan akal sehat, fitrah, dan nikmat besar yang telah Allah berikan kepada mereka.

Dengan demikian, ayat ini mengandung argumentasi tauhid melalui nikmat (dalīl an-ni‘mah).


Tafsir Berkualitas

1. Pertanyaan yang Mengandung Pengingkaran

Allah berfirman:

أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا

"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah?"

Menurut para ahli tafsir, bentuk pertanyaan ini disebut istifhām inkārī, yaitu pertanyaan untuk menolak dan mengecam.

Maksudnya:

Sangat tidak pantas mencari sesembahan selain Allah setelah mengetahui bukti-bukti keagungan-Nya.

Nabi Musa tidak sekadar mengatakan "tidak", tetapi membimbing mereka agar berpikir:

  • Siapa yang menyelamatkan kalian?

  • Siapa yang membelah laut?

  • Siapa yang menghancurkan Fir'aun?

  • Lalu mengapa mencari sesembahan selain-Nya?


2. Nikmat Menuntut Syukur dan Tauhid

Allah berfirman:

وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat."

Maksudnya, Allah memberikan berbagai keutamaan kepada Bani Israil pada masa itu, di antaranya:

  • Diutus para nabi dari kalangan mereka.

  • Diselamatkan dari penindasan Fir'aun.

  • Diberi mukjizat melalui Nabi Musa.

  • Diberi rezeki manna dan salwa.

  • Diberi petunjuk melalui Taurat.

Tafsir Para Ulama

a. Tafsir At-Ṭabari

Muhammad ibn Jarir al-Tabari menjelaskan bahwa:

Keutamaan tersebut adalah kelebihan yang Allah berikan kepada Bani Israil dibanding umat-umat pada zaman mereka, bukan atas seluruh umat sepanjang sejarah.


b. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menerangkan:

Allah mengingatkan mereka terhadap nikmat penyelamatan dan berbagai karunia agar mereka malu meminta sesembahan selain Allah.

Nikmat seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan pembangkangan.


c. Tafsir As-Sa‘di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan:

Di antara bentuk kebodohan terbesar adalah melupakan nikmat Allah lalu berpaling kepada selain-Nya.

Tauhid tumbuh melalui pengenalan terhadap karunia Allah.


Ayat-Ayat Terkait

1. QS. Al-Baqarah: 47

يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)."

Keterkaitan

Ayat ini menegaskan kembali bahwa nikmat Allah merupakan alasan untuk tetap teguh dalam tauhid dan ketaatan.


2. QS. Ibrahim: 7

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

"Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat berat."

Keterkaitan

Meminta sesembahan selain Allah setelah menerima nikmat-Nya merupakan bentuk pengingkaran terhadap nikmat tersebut.


3. QS. An-Nahl: 53

وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ

"Dan segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah."

Keterkaitan

Karena seluruh nikmat berasal dari Allah, maka hanya Dia yang berhak disembah.


4. QS. Luqman: 14

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ

"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu."

Keterkaitan

Syukur bukan hanya ucapan, tetapi diwujudkan dengan ketaatan dan menjaga kemurnian tauhid.


5. QS. Az-Zukhruf: 87

وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

"Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka?' niscaya mereka akan menjawab, 'Allah.'"

Keterkaitan

Mengakui Allah sebagai Pencipta tidak cukup apabila ibadah masih dipersembahkan kepada selain-Nya. Tauhid harus mencakup pengesaan Allah dalam ibadah.


Hikmah dan Pelajaran

1. Tauhid adalah konsekuensi dari mengenal nikmat Allah.

Semakin seseorang menyadari karunia Allah, semakin besar dorongan untuk beribadah hanya kepada-Nya.

2. Syukur sejati diwujudkan dengan ketaatan.

Bukan sekadar ucapan, tetapi menjaga kemurnian akidah dan menjauhi syirik.

3. Nikmat tidak menjamin keselamatan.

Bani Israil menerima banyak karunia, namun tetap dapat tergelincir ketika lalai menjaga iman.

4. Mengingat nikmat adalah sarana menjaga keimanan.

Merenungkan pertolongan Allah dapat memperkuat keteguhan hati.

5. Kebenaran harus diterima dengan akal yang tunduk kepada wahyu.

Nabi Musa mengajak kaumnya berpikir secara logis sekaligus tunduk kepada petunjuk Allah.


Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 140 mengajarkan bahwa tidak ada alasan untuk mencari sesembahan selain Allah, karena hanya Allah yang menciptakan, menyelamatkan, memberi petunjuk, dan melimpahkan nikmat kepada manusia. Nikmat yang besar semestinya melahirkan syukur, ketundukan, dan tauhid yang murni.

"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat?"

Ayat ini menjadi pengingat bahwa mengingat nikmat Allah adalah benteng yang menjaga hati dari kesyirikan dan mengokohkan seorang hamba di atas jalan tauhid.

AL A'RAF 139: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir QS. Al-A‘rāf Ayat 139 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Inna hā'ulā'i mutabbarun mā hum fīhi wa bāṭilun mā kānū ya‘malūn.

Artinya

"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan apa yang mereka anut, dan batil apa yang selalu mereka kerjakan."
(QS. Al-A‘rāf: 139)


Munasabah (Keterkaitan dengan Ayat Sebelumnya)

Pada ayat 138, Bani Israil meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan sesembahan sebagaimana kaum penyembah berhala yang mereka lihat.

Maka pada ayat 139 ini, Nabi Musa menjelaskan alasan penolakannya. Beliau menerangkan bahwa segala bentuk ibadah kepada selain Allah adalah kebatilan yang pasti berakhir dengan kehancuran.


Tafsir Ayat

1. Makna "مُتَبَّرٌ" (Mutabbar)

Kata:

مُتَبَّرٌ

berasal dari akar kata تَبَرَ yang berarti:

  • binasa,

  • hancur,

  • rusak total,

  • musnah tanpa tersisa.

Maksudnya:

Semua sistem keyakinan yang dibangun di atas kesyirikan pasti menuju kehancuran.

Baik kehancuran hujjah (argumentasi), amal, maupun akibatnya di akhirat.


2. Kebatilan Tidak Memiliki Hakikat

Allah berfirman:

وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Dan batil apa yang mereka kerjakan."

Menurut para mufasir:

Yang dimaksud adalah:

  • penyembahan berhala,

  • ritual syirik,

  • pengagungan terhadap sesembahan selain Allah.

Disebut batil karena:

  • tidak memiliki dasar kebenaran,

  • tidak mendatangkan manfaat,

  • tidak dapat menolak mudarat,

  • tidak diterima oleh Allah.


3. Tafsir Para Ulama

a. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menjelaskan:

"Apa yang dilakukan kaum penyembah berhala itu akan hancur, lenyap, dan sia-sia. Semua amal mereka tidak bernilai karena dibangun di atas kesyirikan."

Beliau mengaitkan ayat ini dengan batalnya seluruh amal yang tercampuri syirik.


b. Tafsir At-Tabari

Muhammad ibn Jarir al-Tabari menerangkan:

"Musa mengabarkan bahwa sesembahan mereka tidak dapat memberi manfaat sedikit pun. Apa yang mereka bangun akan dihancurkan Allah."

Ayat ini merupakan bantahan rasional terhadap penyembahan selain Allah.


c. Tafsir As-Sa'di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan:

"Kebatilan mungkin tampak indah di mata manusia, tetapi hakikatnya tetap rusak dan akan sirna."

Ini menunjukkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah penampilan luar atau tradisi yang diwariskan.


Ayat-Ayat Terkait

1. QS. Al-Isrā': 81

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

"Dan katakanlah: Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap."

Keterkaitan

QS. Al-A‘rāf: 139 menegaskan kebatilan ibadah syirik, sedangkan ayat ini menjelaskan sifat umum kebatilan: ia tidak akan bertahan di hadapan kebenaran.


2. QS. Az-Zumar: 65

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

"Sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugurlah amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang rugi."

Keterkaitan

Kesyirikan menyebabkan amal menjadi sia-sia dan tidak bernilai di sisi Allah.


3. QS. Luqman: 13

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar."

Keterkaitan

Penyebab kebinasaan amal dalam QS. Al-A‘rāf: 139 adalah karena syirik merupakan kezaliman terbesar terhadap hak Allah.


4. QS. Al-Hajj: 73

إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ

"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun meskipun mereka bersatu untuk menciptakannya."

Keterkaitan

Ayat ini menunjukkan kelemahan sesembahan selain Allah dan membatalkan alasan untuk menyembahnya.


5. QS. Al-Kahfi: 103–104

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا ۝ الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

"Katakanlah: Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya."

Keterkaitan

Tidak semua amal yang tampak baik diterima. Amal yang dibangun di atas kebatilan akan menjadi kerugian.


Hikmah dan Pelajaran

1. Kebatilan mungkin tampak menarik, tetapi hakikatnya rapuh.

Apa yang tidak dibangun di atas petunjuk Allah pasti akan runtuh.

2. Amal saleh harus disertai tauhid.

Keikhlasan dan ketauhidan merupakan syarat diterimanya amal.

3. Tradisi bukan ukuran kebenaran.

Banyaknya pelaku suatu perbuatan tidak menjadikannya benar.

4. Seorang mukmin harus menilai dengan wahyu.

Penilaian Allah lebih utama daripada penilaian manusia.

5. Kebenaran pada akhirnya akan menang.

Sebagaimana kebatilan pasti sirna, seorang mukmin hendaknya tetap teguh di atas kebenaran meskipun tampak asing.


Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 139 merupakan penegasan Nabi Musa bahwa segala bentuk ibadah yang tidak ditujukan kepada Allah adalah kebatilan yang pasti berujung pada kehancuran. Ayat ini mengajarkan bahwa nilai suatu amal tidak ditentukan oleh popularitas, tradisi, atau kesungguhan pelakunya, tetapi oleh kesesuaiannya dengan tauhid dan petunjuk Allah.

"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan apa yang mereka anut, dan batil apa yang mereka kerjakan."

Ayat ini menjadi prinsip besar dalam Islam: kebenaran bersumber dari wahyu, sedangkan kebatilan—sekuat apa pun tampaknya—pada akhirnya akan lenyap.

AL A'RAF 138: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir Surat Al-A‘rāf Ayat 138 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Wa jāwaznā bibanī isrā'īlal-baḥra fa ataw 'alā qaumin ya‘kufūna 'alā aṣnāmil lahum, qālū yā mūsaj‘al lanā ilāhan kamā lahum ālihah, qāla innakum qaumun tajhalūn.

Artinya:

"Dan Kami seberangkan Bani Israil melintasi laut itu. Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala-berhala mereka, berkatalah Bani Israil, 'Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.' Musa menjawab, 'Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui.'"
(QS. Al-A‘rāf: 138)


Tafsir Ayat

1. Latar belakang ayat

Ayat ini terjadi setelah Allah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Fir'aun dengan membelah laut. Mereka baru saja menyaksikan mukjizat besar, namun ketika melihat suatu kaum yang menyembah patung, mereka justru meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan sesembahan seperti itu.

Hal ini menunjukkan bahwa:

  • Keimanan yang belum kuat mudah terpengaruh lingkungan.

  • Kebiasaan syirik yang lama dapat membekas dalam jiwa.

  • Mukjizat tidak selalu melahirkan keteguhan iman jika hati tidak dibina dengan ilmu.


2. Tafsir para ulama

a. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menjelaskan bahwa Bani Israil baru keluar dari lingkungan penyembah berhala di Mesir. Ketika melihat kaum lain beribadah kepada patung, mereka terpesona dan meminta hal serupa kepada Musa.

Beliau menegaskan bahwa ucapan itu merupakan kebodohan besar, meskipun mereka belum bermaksud keluar dari Islam secara sadar.

b. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurtubi menerangkan bahwa permintaan tersebut menunjukkan lemahnya pemahaman tauhid. Karena itu Musa berkata:

إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

"Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh."

Yakni bodoh terhadap keagungan Allah dan hak-Nya untuk disembah semata.

c. Tafsir As-Sa'di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa seseorang yang tidak memiliki ilmu syar'i akan mudah menganggap kebatilan sebagai sesuatu yang baik hanya karena banyak dilakukan orang.


Pelajaran (Fawaid) dari Ayat

1. Pentingnya ilmu tauhid

Keajaiban dan pengalaman spiritual saja tidak cukup tanpa ilmu.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

"Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah."

(QS. Muhammad: 19)


2. Jangan tertipu oleh banyaknya pengikut kebatilan

Sesuatu tidak menjadi benar hanya karena populer.

Allah berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

"Jika engkau menuruti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah."

(QS. Al-An‘ām: 116)


3. Syirik merupakan kezaliman terbesar

Allah berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar."

(QS. Luqman: 13)


4. Wajib mengingkari kemungkaran dengan ilmu

Nabi Musa tidak membiarkan permintaan itu, tetapi langsung meluruskannya.

Beliau berkata:

إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

"Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui."

Ini menunjukkan kewajiban para pendidik dan ulama untuk menjelaskan kesalahan dengan hikmah dan ilmu.


Ayat-Ayat Terkait

QS. Al-A‘rāf: 139

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya, dan batil apa yang mereka kerjakan."

Musa menjelaskan bahwa ibadah kepada berhala pasti sia-sia.


QS. Al-A‘rāf: 140

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)?"

Nikmat Allah semestinya melahirkan syukur dan tauhid, bukan mencari sesembahan selain-Nya.


QS. Al-Baqarah: 51

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ

"Kemudian kamu menjadikan anak sapi (sebagai sesembahan) setelah Musa pergi, padahal kamu adalah orang-orang zalim."

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa penyakit kecenderungan kepada syirik harus diobati dengan pendidikan iman yang berkelanjutan.


Hikmah

  1. Tauhid harus dipelajari dan diajarkan sejak dini.

  2. Lingkungan dapat memengaruhi cara berpikir seseorang.

  3. Tidak semua tradisi masyarakat layak diikuti.

  4. Seorang mukmin harus menimbang segala sesuatu dengan wahyu, bukan sekadar kebiasaan atau mayoritas.

  5. Nikmat Allah seharusnya menambah ketaatan, bukan melahirkan kelalaian.

Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 138 mengajarkan bahwa bahaya terbesar setelah memperoleh nikmat hidayah adalah kebodohan terhadap tauhid. Bani Israil yang baru saja diselamatkan Allah masih tergoda oleh simbol-simbol kesyirikan karena lemahnya pemahaman. Oleh karena itu, iman harus dibangun di atas ilmu, keteguhan, dan sikap kritis terhadap segala bentuk penyimpangan dari ajaran Allah.

Selasa, 17 Februari 2026

𝗠𝗮𝗻𝘂𝘀𝗶𝗮 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗻𝗴𝗲𝗰𝗲𝘄𝗮𝗶𝗻, 𝗔𝗹𝗹𝗼𝗵 𝘁𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵

‎وَّيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُ​ ؕ وَمَنۡ يَّتَوَكَّلۡ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسۡبُهٗ ؕ اِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمۡرِهٖ​ ؕ قَدۡ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَىۡءٍ قَدۡرًا‏ "Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." ( Q.S. At-Talaq (65):3 )

𝙎𝙖𝙖𝙩 𝙢𝙚𝙡𝙖𝙠𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙚𝙗𝙖𝙞𝙠𝙖𝙣: 𝗟𝗮𝗸𝘂𝗸𝗮𝗻 & 𝗹𝘂𝗽𝗮𝗸𝗮𝗻!


‎اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ "Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri." ( QS. Al-Isra : 7 )

𝗞𝗮𝗹𝗮𝘂 𝘀𝗲𝗺𝘂𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗽𝗮𝗵𝗶𝘁 𝗱𝗶𝘀𝗶𝗺𝗽𝗮𝗻, 𝗸𝗮𝗽𝗮𝗻 𝗵𝗮𝘁𝗶 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝘁𝗲𝗻𝗮𝗻𝗴?

Belajar lepaskan. Belajar berbaik sangka. Pasti ada rahasia Alloh dibalik setiap kepahitan. وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ "Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan." ( QS. Asy-Syura : 43 )

Semua yang kita alami ada di dalam Al-Qur'an:*

*ketika putus asa:* Surah Yusuf (87) *ketika insecure:* Surah Ali Imran (139) *ketika sedih:* Surah Al Baqarah (25) *ketika difitnah/dihina:* Surah Yassin (76) *ketika tertekan:* Surah Ar Rad (28) *ketika kesusahan:* Surah Al Insyirah (5) *ketika berdosa:* Surah Az Zumar (53) *ketika tidak di hargai:* Surah Al insan (22) Ingat! Allah itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

𝗞𝗶𝘁𝗮 𝗱𝗶 𝗱𝘂𝗻𝗶𝗮 𝗵𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗺𝗮𝗺𝗽𝗶𝗿, 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗻𝗮𝗯𝘂𝗻𝗴 𝗯𝗲𝗸𝗮𝗹 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗯𝗲𝗿𝗽𝘂𝗹𝗮𝗻𝗴

‎وَمَا هٰذِهِ الۡحَيٰوةُ الدُّنۡيَاۤ اِلَّا لَهۡوٌ وَّلَعِبٌ​ؕ وَاِنَّ الدَّارَ الۡاٰخِرَةَ لَهِىَ الۡحَـيَوَانُ​ۘ لَوۡ كَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ‏ "Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui." ( QS. Al-Ankabut : 64 )

Tafsir dan makna hawqalah

Inilah tafsir kalimat hawqalah لاحول ولا قوة الا بالله berdasarkan hadits shahih riwayat al-Bazzar : اي لا حول عن معصية الله الا بعصمة الله، Tidak ada daya upaya (seseorang) untuk selamat (yakni terhindar) dari perkara maksiat (dosa), kecuali dengan pemeliharaan Allah. ولا قوة على طاعة الله الا بعون الله. dan tidak ada daya kekuatan (atas seseorang) untuk berbuat ketaatan kecuali karena ia mendapatkan pertolongan Allah.

Jangan Jadikan Orang Kafir Sebagai Orang Kepercayaan Dan Pemimpin

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi auliya dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa) Nya. Dan hanya kepada Allah kembali (mu)” (QS. Al Imran: 28) Ibnu Abbas radhiallahu’anhu menjelaskan makna ayat ini:

“Allah Subhanahu Wa Ta’ala melarang kaum mu’minin untuk menjadikan orang kafir sebagai walijah (orang dekat, orang kepercayaan) padahal ada orang mu’min. Kecuali jika orang-orang kafir menguasai mereka, sehingga kaum mu’minin menampakkan kebaikan pada mereka dengan tetap menyelisihi mereka dalam masalah agama. Inilah mengapa Allah Ta’ala berfirman: ‘kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka‘” (Tafsir Ath Thabari, 6825). يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (QS. Al Maidah: 51) Ibnu Katsir menjelaskan ayat ini:

“Allah Ta’ala melarang hamba-Nya yang beriman untuk loyal kepada orang Yahudi dan Nasrani. Mereka itu musuh Islam dan sekutu-sekutunya. Semoga Allah memerangi mereka. Lalu Allah mengabarkan bahwa mereka itu adalah auliya terhadap sesamanya. Kemudian Allah mengancam dan memperingatkan bagi orang mu’min yang melanggar larangan ini Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim“” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132). Lalu Ibnu Katsir menukil sebuah riwayat dari Umar bin Khathab, “Bahwasanya Umar bin Khathab memerintahkan Abu Musa Al Asy’ari bahwa pencatatan pengeluaran dan pemasukan pemerintah dilakukan oleh satu orang. Abu Musa memiliki seorang juru tulis yang beragama Nasrani. Abu Musa pun mengangkatnya untuk mengerjakan tugas tadi. Umar bin Khathab pun kagum dengan hasil pekerjaannya. Ia berkata: ‘Hasil kerja orang ini bagus, bisakah orang ini didatangkan dari Syam untuk membacakan laporan-laporan di depan kami?’. Abu Musa menjawab: ‘Ia tidak bisa masuk ke tanah Haram’. Umar bertanya: ‘Kenapa? Apa karena ia junub?’. Abu Musa menjawab: ‘bukan, karena ia seorang Nasrani’. Umar pun menegurku dengan keras dan memukul pahaku dan berkata: ‘pecat dia!’. Umar lalu membacakan ayat: ‘Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim‘” (Tafsir Ibni Katsir, 3/132). Jelas sekali bahwa ayat ini larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin atau orang yang memegang posisi-posisi strategis yang bersangkutan dengan kepentingan kaum muslimin.

gar Ibadah Kurban Kita Diterima oleh Allah

🍂 Di dalam Al-Qur'an, Allah mengkisahkan dua putra Nabi Adam melakukan ibadah yang sama namun hanya satu yang diterima oleh Allah. “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Qabil dan Habil) dengan sebenarnya. Ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah satunya dan tidak diterima dari yang lainnya. Maka berkata yang tidak diterima kurbannya, ‘Sungguh aku akan membunuhmu’. Dan berkata yang diterima kurbannya, ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang bertakwa.’” [QS Al-Maidah: 27] 🍒 Di dalam ayat lain Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidak akan sampai kepada Allah daging-dagingnya, ataupun darah-darahnya (kurban). Akan tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaan dari (hati) kalian.” [QS Al-Hajj: 37] 📒 Ketaatan yang hakiki bukan terletak pada gerakan anggota badan atau ucapan di lisan saja. Lebih daripada itu, ketaatan yang sejati adalah yang berakar dari dalam dada. Ketaatan yang tumbuh dari keikhlasan niat, kelurusan aqidah, dan berada di dalam koridor syari’at. 📚 Ibadah kurban sebagai bentuk ketaatan haruslah ikhlas hanya untuk Allah semata, sebagaimana firman-Nya, “Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu, dan berkurbanlah (untuk Rabbmu).” [QS Al-Kautsar: 2] Demikian pula Rasulullah pernah bersabda, “Allah melaknat orang yang menyembelih kurban kepada selain Allah.” [HR Muslim]