Cari Blog Ini

Jumat, 23 Oktober 2026

al a'raf 191 dan ayat terkait

 ## **1. Teks dan Terjemah QS. Al-A‘rāf [7]: 191**


**أَيُشْرِكُونَ مَا لَا يَخْلُقُ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ**


*“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) sesuatu (berhala) yang tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, padahal ia (berhala) sendiri diciptakan?”* (Kemenag RI)


Quraish Shihab merumuskan maknanya: *“Apakah patut mereka menyekutukan Allah dengan berhala-berhala yang tidak dapat melakukan apa-apa, lebih-lebih lagi mereka sendiri diciptakan oleh Allah?”* Tafsir Jalalayn menegaskan bahwa ayat ini berbentuk pertanyaan yang mencela: mereka mempersekutukan Allah dalam ibadah dengan berhala yang tak dapat menciptakan sesuatu pun, sedangkan berhala itu sendiri adalah buatan manusia.


---


## **2. Tafsir Ringkas Ayat 191**


### **a. Celaan terhadap kemusyrikan yang tidak logis**

Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa ayat ini **mencela keras** sikap, pikiran, dan tingkah laku orang-orang yang menyembah berhala. Berhala-berhala itu **tidak dapat menciptakan sesuatu pun**, bahkan benda-benda yang rendah nilainya, karena berhala-berhala itu sendiri **dibikin oleh tangan manusia**. Tidak wajar bagi orang yang berakal menjadikan berhala sebagai sembahan, baik dipandang sebagai sekutu Allah maupun sebagai perantara antara manusia dengan Allah.


### **b. Tiga kelemahan mendasar berhala**

Tafsir *Kur’an Yolu* (Diyanet) merangkum argumen ayat ini dan ayat berikutnya (192) ke dalam tiga sifat ketuhanan yang tidak mungkin dimiliki berhala:


1. **Yaratıcılık (Kreativitas/ Penciptaan):** Berhala sendiri **diciptakan**, maka tidak mungkin ia menjadi tuhan. Sesuatu yang diciptakan tidak sama dengan Sang Pencipta.

2. **Lutufkârlık (Kemampuan memberi pertolongan):** Berhala **tidak mampu menolong** penyembahnya, bahkan menolong dirinya sendiri pun tidak bisa. Allah Maha Kaya, Maha Pemberi, dan Maha Penyayang dalam menjawab segala permintaan.

3. **Kendi kendine yeterlilik (Kemandirian):** Hanya Allah yang **mandiri** dan tidak membutuhkan bantuan siapa pun. Segala selain Allah, termasuk berhala, bahkan **tidak mampu menolong dirinya sendiri**, sehingga mustahil memiliki sifat ketuhanan.


Dengan tiga argumen ini, ayat tersebut menegaskan bahwa **kemusyrikan sepenuhnya tidak memiliki dasar akal dan logika**.


### **c. Konteks ayat sebelumnya: QS. Al-A‘rāf 190**

Ayat 191 merupakan lanjutan dari kecaman terhadap **penyimpangan dalam beribadah**. Ayat 190 menyebutkan tentang orang-orang yang setelah diberi anak yang saleh, justru **menjadikan sekutu bagi Allah** dalam hal yang telah diberikan-Nya. Ibnu Katsir dan beberapa mufasir menjelaskan bahwa ayat 190–191 ini berkaitan dengan **keturunan Adam dan Hawa** yang terjerumus ke dalam syirik, bukan sekadar peristiwa individual, melainkan mencerminkan **penyimpangan kolektif** manusia dalam memahami nikmat Allah.


---


## **3. Ayat-Ayat Terkait**


### **a. QS. An-Naḥl [16]: 20 — redaksi yang sangat mirip**

Allah berfirman: *“Dan (berhala-berhala) yang mereka seru selain Allah tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun, bahkan berhala-berhala itu (sendiri) diciptakan (oleh manusia).”*


Ayat ini hampir identik dengan Al-A‘rāf 191. Redaksi **“tidak dapat menciptakan sesuatu apa pun”** dan **“berhala itu sendiri diciptakan”** menegaskan bahwa **sembahan selain Allah tidak memiliki daya cipta sama sekali**, bahkan keberadaannya bergantung pada manusia.


### **b. QS. Al-Furqān [25]: 3 — kelemahan yang lebih rinci**

Allah berfirman: *“Dan mereka mengambil tuhan-tuhan selain Dia (untuk disembah), yang tidak menciptakan sesuatu apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan, dan tidak mampu (menimpakan) mudarat dan (mendatangkan) manfaat kepada dirinya sendiri, dan tidak mampu mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan.”*


Ayat ini memperluas argumen Al-A‘rāf 191: berhala tidak hanya **tidak bisa mencipta**, tetapi juga **tidak berkuasa atas mudarat, manfaat, kematian, kehidupan, maupun kebangkitan**. Ini adalah **pembatalan total terhadap segala bentuk penyembahan selain Allah**, karena sifat-sifat ketuhanan yang paling dasar pun tidak dimiliki oleh berhala.


### **c. QS. Al-Ḥajj [22]: 73 — perumpamaan lalat yang lemah**

Allah berfirman: *“Wahai manusia! Telah dibuat suatu perumpamaan, maka dengarkanlah! Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, mereka tidak dapat merebutnya kembali. Sama lemahnya yang menyembah dan yang disembah.”*


Tafsir Kemenag mengutip ayat ini sebagai **penguat argumen Al-A‘rāf 191**. Bahkan untuk menciptakan **seekor lalat**—makhluk yang sangat kecil dan hina—berhala-berhala itu tidak mampu, apalagi menciptakan sesuatu yang lebih besar. Jika lalat merampas sesuatu dari mereka, mereka pun **tidak berdaya merebutnya kembali**. Ini menunjukkan **kelemahan total** baik pada sembahan maupun penyembahnya.


### **d. QS. Al-A‘rāf [7]: 192 — lanjutan langsung**

Ayat 192 menyempurnakan argumen ayat 191: *“Dan berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada penyembah-penyembahnya, dan kepada dirinya sendiri pun berhala-berhala itu tidak dapat memberi pertolongan.”*


Ibnu Baz menjelaskan bahwa ayat ini merupakan **bantahan yang jelas terhadap kebatilan** apa yang mereka sembah selain Allah. Sifat **tidak mampu menolong** ini berlaku bagi **seluruh makhluk**, termasuk malaikat, para nabi, dan orang-orang saleh—mereka semua adalah makhluk yang tidak memiliki daya untuk menolong siapa pun tanpa izin Allah.


### **e. QS. Al-An‘ām [6]: 74 dan QS. Ibrāhīm [14]: 35–36 — konteks kenabian**

Nabi Ibrahim juga menolak syirik dengan argumen serupa. Dalam Al-An‘ām 74, ia berkata kepada ayahnya: *“Apakah engkau menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.”* Dalam Ibrahim 35–36, Nabi Ibrahim berdoa agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari menyembah berhala. Ini menunjukkan bahwa **penolakan terhadap syirik adalah inti dakwah para nabi**, dan Al-A‘rāf 191 merupakan **salah satu rumusan argumentatifnya**.


---


## **4. Hikmah dan Pelajaran**


1. **Syirik adalah kezaliman yang paling besar.** Al-A‘rāf 191 menunjukkan bahwa menyekutukan Allah dengan sesuatu yang **tidak mampu mencipta, menolong, atau menolong dirinya sendiri** adalah **tindakan yang irasional dan tidak adil terhadap Allah**.

2. **Berhala-berhala tidak memiliki daya apa pun.** Baik berhala fisik maupun "berhala modern" (harta, kekuasaan, hawa nafsu) yang dijadikan tandingan Allah **tidak akan mampu memberikan pertolongan sejati**.

3. **Akal sehat menolak syirik.** Ayat ini berbentuk pertanyaan retoris yang **menggugah akal**: bagaimana mungkin sesuatu yang diciptakan dijadikan tuhan, padahal ia sendiri tidak berdaya?

4. **Konteks nikmat dan syukur.** Ayat 190 mengingatkan bahwa **nikmat anak saleh** seharusnya mendorong kepada syukur, bukan kepada syirik. Al-A‘rāf 191 adalah **koreksi terhadap penyimpangan dalam menyikapi nikmat**.

5. **Tauhid adalah fondasi.** Semua ayat terkait—An-Naḥl 20, Al-Furqān 3, Al-Ḥajj 73, dan Al-A‘rāf 192—bermuara pada satu pesan: **hanya Allah yang layak disembah**, karena hanya Dia yang **Maha Pencipta, Maha Penolong, dan Maha Mandiri**.


Dengan demikian, QS. Al-A‘rāf 191 bukan sekadar celaan terhadap penyembah berhala di masa lalu, melainkan **prinsip abadi tentang kemustahilan menyekutukan Allah dengan apa pun**, karena segala selain Allah—betapapun diagungkan—tetap **makhluk yang lemah dan tidak berdaya**.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar