**QS. Al-A‘rāf [7]: 193** masih merupakan rangkaian kecaman terhadap penyembahan berhala. Jika ayat sebelumnya (191–192) membongkar kelemahan berhala dari sisi **penciptaan dan pertolongan**, ayat 193 ini menegaskan bahwa berhala-berhala itu bahkan **tidak mampu memberikan petunjuk**—sesuatu yang jauh lebih ringan daripada mencipta atau menolong. Seruan kepada mereka dan diamnya kamu, wahai penyembah berhala, adalah sama saja: tidak ada gunanya.
### 📖 Teks, Terjemah, dan Makna Kunci
**Teks Arab:**
> وَاِنْ تَدْعُوْهُمْ اِلَى الْهُدٰى لَا يَتَّبِعُوْكُمْۗ سَوَۤاءٌ عَلَيْكُمْ اَدَعَوْتُمُوْهُمْ اَمْ اَنْتُمْ صٰمِتُوْنَ
**Terjemah Kemenag:**
> *“Dan jika kamu (wahai orang-orang musyrik) menyerunya (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk kepadamu, tidaklah berhala-berhala itu dapat memperkenankan seruanmu; sama saja (hasilnya) buat kamu menyeru mereka atau berdiam diri.”*
Ayat ini menggunakan gaya bahasa **retoris** untuk menegaskan **kehinaan berhala**. Jika pada ayat 191 dinyatakan bahwa berhala tidak bisa mencipta dan pada ayat 192 bahwa ia tidak bisa menolong, maka ayat 193 menambahkan bahwa **memberi petunjuk pun ia tidak mampu**. Ini adalah argumen berjenjang: dari yang paling berat (mencipta) hingga yang paling ringan (memberi isyarat atau petunjuk), berhala tetap **tidak berdaya**.
### 🧠 Tafsir Ringkas: “Sama Saja, Tidak Ada Gunanya”
Tafsir **Kemenag** menjelaskan bahwa ayat ini merupakan **penegasan atas kelemahan berhala yang lebih ringan** dari sekadar membela diri. Jika kamu, wahai orang-orang musyrik, terus-menerus menyeru berhala-berhala itu agar memberi petunjuk, **mereka tidak akan memperkenankan seruanmu** karena mereka **tidak mendengar dan tidak mengerti**. Hasilnya **sama saja**: apakah kamu menyeru mereka berkali-kali atau kamu diam membisu, **tidak ada gunanya sama sekali**. Mereka tetap tidak akan tersentuh atau bergerak.
Tafsir **Tahlili** (Kemenag) menambahkan bahwa berhala-berhala itu **tidak dapat mengikuti keinginan penyembahnya**, tidak memahami permohonan, tidak mendengar, dan tidak memikirkan apa yang diucapkan kepada mereka. Maka, **patutkah sesuatu yang memiliki sifat-sifat demikian disembah?** Yang seharusnya disembah adalah **Allah Yang memberi manfaat, memberi hukuman kepada pelaku maksiat, menghancurkan musuh-Nya, memberi petunjuk kepada yang taat, dan mendengarkan doa orang-orang yang berdoa kepada-Nya**.
**Ibnu Katsir** menegaskan bahwa berhala-berhala itu **tidak dapat mendengar seruan** orang yang memanggilnya. Keadaannya **sama saja** apakah ada orang yang menyerunya atau pun orang yang menggulingkannya. Ibnu Katsir mengutip perkataan Nabi Ibrahim kepada ayahnya: *“Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?”* (QS. Maryam: 42). Lebih jauh, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa berhala-berhala itu **adalah makhluk juga**, sama seperti para penyembahnya. Bahkan **manusia jauh lebih sempurna** daripada berhala, karena manusia dapat mendengar, melihat, dan bertindak, sedangkan berhala **tidak dapat melakukan sesuatu pun** dari hal itu.
### 🔗 Konteks: Ayat 191–192 dan 194–198
Ayat 193 tidak berdiri sendiri; ia merupakan **mata rantai** dalam argumen panjang tentang **kehinaan berhala**:
- **Ayat 191–192** (yang telah dibahas sebelumnya) menegaskan bahwa berhala **tidak dapat mencipta** dan **tidak dapat menolong** siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
- **Ayat 193** menambahkan bahwa berhala **tidak dapat memberi petunjuk**—sesuatu yang lebih rendah dari menolong.
- **Ayat 194–195** kemudian menantang orang-orang musyrik: *“Sesungguhnya berhala-berhala yang kamu seru selain Allah adalah makhluk (yang juga diciptakan) seperti kamu. Maka cobalah kamu seru mereka, lalu biarkanlah mereka memperkenankan seruanmu, jika kamu orang yang benar.”* Ayat 195 kemudian menggambarkan **kelemahan fisik berhala**: *“Apakah mereka mempunyai kaki untuk berjalan, atau tangan untuk memegang, atau mata untuk melihat, atau telinga untuk mendengar?”*
- **Ayat 196–198** melanjutkan dengan menegaskan bahwa **pelindung sejati hanyalah Allah**, dan berhala-berhala yang diseru selain-Nya **tidak mampu menolong** penyembahnya maupun diri sendiri. Bahkan jika diseru untuk memberi petunjuk, **mereka tidak mendengarnya**; kamu melihat mereka memandang kepadamu, **padahal mereka tidak melihat**.
### 📚 Ayat-Ayat Terkait
Al-Qur’an menegaskan argumen yang sama di banyak tempat, dengan redaksi yang saling menguatkan:
- **QS. Maryam [19]: 42:** Nabi Ibrahim berkata kepada ayahnya: *“Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?”* Ini adalah **dalil yang dikutip Ibnu Katsir** untuk memperkuat ayat 193.
- **QS. Al-Furqān [25]: 3:** Tuhan-tuhan selain Allah *“tidak menciptakan apa pun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa untuk (menolak) bahaya terhadap dirinya dan tidak dapat (mendatangkan) manfaat serta tidak kuasa mematikan, menghidupkan, dan membangkitkan.”*
- **QS. Al-Ḥajj [22]: 73:** *“Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya.”*
- **QS. Al-A‘rāf [7]: 198:** *“Dan jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. Dan kamu melihat mereka memandang kepadamu, padahal mereka tidak melihat.”* Ayat ini hampir identik dengan ayat 193 dan menegaskan **ketidakmampuan berhala untuk mendengar**.
### 💎 Pelajaran Utama
1. **Berhala adalah makhluk yang hina.** Ia tidak hanya gagal mencipta dan menolong, tetapi bahkan **tidak mampu memberi petunjuk**—sesuatu yang paling ringan dan mendasar.
2. **Seruan kepada berhala adalah sia-sia.** Apakah diseru berkali-kali atau didiamkan, hasilnya **tetap sama**: tidak ada respons, tidak ada manfaat.
3. **Allah adalah satu-satunya Pelindung dan Pemberi Petunjuk.** Hanya Dia yang **mendengar doa, memberi manfaat, menghukum pelaku maksiat, dan memberi petunjuk kepada yang taat**.
4. **Manusia lebih mulia daripada berhala.** Manusia memiliki pendengaran, penglihatan, dan kemampuan bertindak; berhala **sama sekali tidak memiliki itu**. Maka menyembah berhala adalah **penurunan martabat** manusia itu sendiri.
5. **Tauhid adalah konsekuensi logis dari akal sehat.** Jika berhala tidak mampu melakukan apa pun—tidak mencipta, tidak menolong, tidak memberi petunjuk—maka **tidak ada alasan rasional** untuk menyembahnya.
Dengan demikian, QS. Al-A‘rāf 193 adalah **puncak argumentasi tentang kelemahan berhala**: dari ketidakmampuan mencipta (191), menolong (192), hingga **memberi petunjuk (193)**. Semuanya bermuara pada satu kesimpulan: **hanya Allah yang layak disembah**, karena hanya Dia yang Maha Mendengar, Maha Melihat, Maha Pencipta, dan Maha Pemberi Petunjuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar