Tafsir Lengkap Surah Al-A'raf Ayat 148 (QS. 7:148)
Berdasarkan 5 Ahli Tafsir: Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Quraish Shihab, dan Tafsir Kementerian Agama RI
📖 QS. Al-A'raf Ayat 148
Teks Arab
وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعْدِهِۦ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهُۥ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ
Terjemahan Kemenag RI
"Dan kaum Musa, setelah (kepergian)-nya, membuat dari perhiasan-perhiasan mereka patung anak sapi yang bertubuh dan dapat mengeluarkan suara. Tidakkah mereka mengetahui bahwa (patung) itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak (pula) dapat menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan), dan mereka adalah orang-orang yang zalim."
Latar Belakang Ayat
Ayat ini menceritakan peristiwa ketika Nabi Musa alaihis salam pergi ke Gunung Sinai (Ṭur) untuk menerima Taurat. Selama kepergian beliau, sebagian Bani Israil dipengaruhi oleh Samiri, yang membuat patung anak sapi dari perhiasan mereka. Mereka kemudian menyembahnya, padahal sebelumnya telah menyaksikan berbagai mukjizat Allah melalui Nabi Musa.
1. Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyembahan anak sapi merupakan fitnah (ujian) besar bagi Bani Israil.
a. Anak sapi dari perhiasan
Patung itu dibuat dari emas dan perhiasan yang dikumpulkan dari Bani Israil. Pembuatnya adalah Samiri, sebagaimana dijelaskan lebih rinci dalam Surah Ṭaha.
b. Mengeluarkan suara
Mengenai frasa "lahu khuwār" (mengeluarkan suara sapi), Ibnu Katsir menyebut beberapa riwayat:
angin masuk ke rongga patung sehingga terdengar suara,
Allah menjadikannya sebagai ujian bagi Bani Israil.
Suara itu bukan tanda bahwa patung tersebut hidup atau memiliki kekuatan ilahi.
c. Kebodohan mereka
Allah mencela mereka karena patung itu:
tidak dapat berbicara,
tidak dapat memberi petunjuk,
tidak dapat memberi manfaat maupun menolak mudarat.
Meski demikian, mereka tetap menyembahnya.
2. Tafsir Ath-Thabari
Ath-Thabari menjelaskan bahwa:
Perhiasan yang digunakan berasal dari emas yang dikumpulkan Bani Israil.
Samiri membentuknya menjadi seekor anak sapi yang memiliki rongga sehingga ketika angin bertiup terdengar suara seperti lenguhan sapi.
Makna celaan Allah
Allah bertanya:
"Tidakkah mereka melihat?"
Pertanyaan ini bukan meminta jawaban, melainkan teguran keras.
Bagaimana mungkin sesuatu yang:
tidak berbicara,
tidak memberi petunjuk,
justru dijadikan tuhan?
Ath-Thabari menegaskan bahwa penyembahan tersebut merupakan bentuk kezaliman terhadap Allah dan terhadap diri mereka sendiri.
3. Tafsir Al-Qurthubi
Al-Qurthubi memberikan beberapa pembahasan penting.
Tentang suara patung
Beliau menyebut beberapa pendapat ulama:
suara berasal dari angin,
suara itu merupakan ujian dari Allah,
bukan berarti patung itu hidup.
Pelajaran aqidah
Ayat ini menunjukkan bahwa:
sesembahan yang benar harus memiliki sifat ketuhanan,
mampu memberi petunjuk,
memiliki kekuasaan.
Patung anak sapi sama sekali tidak memiliki sifat tersebut.
Karena itu penyembahan terhadapnya merupakan kesyirikan yang nyata.
4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)
Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan mudahnya manusia tergelincir apabila iman tidak kokoh.
Walaupun baru saja:
diselamatkan dari Fir'aun,
menyaksikan laut terbelah,
melihat berbagai mukjizat,
sebagian Bani Israil tetap tergoda oleh simbol yang tampak indah.
Beliau menegaskan bahwa:
Patung itu tidak memiliki:
kemampuan berbicara,
kemampuan memberi petunjuk,
kekuasaan sedikit pun.
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia jangan terpesona oleh bentuk lahiriah sehingga kehilangan akal sehat dan petunjuk wahyu.
5. Tafsir Kementerian Agama RI
Menurut Tafsir Kemenag:
Setelah Nabi Musa pergi menerima wahyu, Samiri memanfaatkan keadaan untuk menyesatkan Bani Israil.
Ia membuat patung anak sapi dari emas sehingga menarik perhatian mereka.
Allah mengecam mereka karena:
patung itu tidak berbicara,
tidak memberi petunjuk,
tidak mempunyai kekuasaan apa pun.
Mereka tetap menyembahnya sehingga digolongkan sebagai orang-orang zalim karena meletakkan ibadah bukan pada tempatnya.
Perbandingan Kelima Ahli Tafsir
| Mufassir | Pokok Penafsiran |
|---|---|
| Ibnu Katsir | Samiri membuat patung anak sapi dari emas; suara yang keluar merupakan ujian; patung tidak memiliki sifat ketuhanan. |
| Ath-Thabari | Suara berasal dari rongga patung; Allah mencela kebodohan Bani Israil yang menyembah benda mati. |
| Al-Qurthubi | Menjelaskan berbagai pendapat tentang suara patung dan menegaskan syarat ketuhanan tidak dimiliki patung itu. |
| Quraish Shihab | Ayat menunjukkan rapuhnya iman ketika manusia lebih terpikat simbol daripada petunjuk Allah. |
| Kemenag RI | Samiri memanfaatkan kelengahan Bani Israil; penyembahan anak sapi adalah kezaliman dan penyimpangan tauhid. |
Kaitan dengan Ayat Lain
QS. Ṭaha [20]: 85–97: Penjelasan rinci tentang Samiri, pembuatan anak sapi, dan dialog Nabi Musa dengannya.
QS. Al-Baqarah [2]: 51–54: Kisah Bani Israil menyembah anak sapi dan perintah bertobat.
QS. An-Nisa' [4]: 153: Penyembahan anak sapi disebut sebagai salah satu pelanggaran besar Bani Israil.
Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 148
Tauhid harus dijaga, karena penyimpangan dapat terjadi meskipun seseorang pernah menyaksikan banyak mukjizat.
Mukjizat saja tidak menjamin keimanan jika hati tidak teguh dan tidak taat kepada Allah.
Jangan mengikuti pemimpin yang menyesatkan, sebagaimana Samiri menyesatkan Bani Israil.
Akal sehat harus digunakan: sesuatu yang tidak dapat berbicara, memberi petunjuk, atau memberi manfaat tidak layak dijadikan sesembahan.
Syirik adalah kezaliman terbesar, karena mengalihkan ibadah kepada selain Allah.
Kesimpulan
Kelima mufassir sepakat bahwa QS. Al-A'raf ayat 148 menggambarkan penyimpangan besar Bani Israil setelah kepergian Nabi Musa, ketika mereka menyembah patung anak sapi buatan Samiri. Patung itu tidak memiliki sifat ketuhanan sedikit pun—tidak dapat berbicara, memberi petunjuk, atau memberi manfaat. Ayat ini menjadi peringatan bahwa iman harus dibangun di atas wahyu dan akal yang benar, bukan pada kekaguman terhadap simbol atau benda.