Cari Blog Ini

Jumat, 17 Juli 2026

tafsir lengkap al araf 148

 

Tafsir Lengkap Surah Al-A'raf Ayat 148 (QS. 7:148)

Berdasarkan 5 Ahli Tafsir: Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Quraish Shihab, dan Tafsir Kementerian Agama RI


📖 QS. Al-A'raf Ayat 148

Teks Arab

وَاتَّخَذَ قَوْمُ مُوسَىٰ مِنۢ بَعْدِهِۦ مِنْ حُلِيِّهِمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهُۥ خُوَارٌ ۚ أَلَمْ يَرَوْا أَنَّهُۥ لَا يُكَلِّمُهُمْ وَلَا يَهْدِيهِمْ سَبِيلًا ۘ اتَّخَذُوهُ وَكَانُوا ظَالِمِينَ

Terjemahan Kemenag RI

"Dan kaum Musa, setelah (kepergian)-nya, membuat dari perhiasan-perhiasan mereka patung anak sapi yang bertubuh dan dapat mengeluarkan suara. Tidakkah mereka mengetahui bahwa (patung) itu tidak dapat berbicara dengan mereka dan tidak (pula) dapat menunjukkan jalan kepada mereka? Mereka menjadikannya (sebagai sesembahan), dan mereka adalah orang-orang yang zalim."


Latar Belakang Ayat

Ayat ini menceritakan peristiwa ketika Nabi Musa alaihis salam pergi ke Gunung Sinai (Ṭur) untuk menerima Taurat. Selama kepergian beliau, sebagian Bani Israil dipengaruhi oleh Samiri, yang membuat patung anak sapi dari perhiasan mereka. Mereka kemudian menyembahnya, padahal sebelumnya telah menyaksikan berbagai mukjizat Allah melalui Nabi Musa.


1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyembahan anak sapi merupakan fitnah (ujian) besar bagi Bani Israil.

a. Anak sapi dari perhiasan

Patung itu dibuat dari emas dan perhiasan yang dikumpulkan dari Bani Israil. Pembuatnya adalah Samiri, sebagaimana dijelaskan lebih rinci dalam Surah Ṭaha.

b. Mengeluarkan suara

Mengenai frasa "lahu khuwār" (mengeluarkan suara sapi), Ibnu Katsir menyebut beberapa riwayat:

  • angin masuk ke rongga patung sehingga terdengar suara,

  • Allah menjadikannya sebagai ujian bagi Bani Israil.

Suara itu bukan tanda bahwa patung tersebut hidup atau memiliki kekuatan ilahi.

c. Kebodohan mereka

Allah mencela mereka karena patung itu:

  • tidak dapat berbicara,

  • tidak dapat memberi petunjuk,

  • tidak dapat memberi manfaat maupun menolak mudarat.

Meski demikian, mereka tetap menyembahnya.


2. Tafsir Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa:

Perhiasan yang digunakan berasal dari emas yang dikumpulkan Bani Israil.

Samiri membentuknya menjadi seekor anak sapi yang memiliki rongga sehingga ketika angin bertiup terdengar suara seperti lenguhan sapi.

Makna celaan Allah

Allah bertanya:

"Tidakkah mereka melihat?"

Pertanyaan ini bukan meminta jawaban, melainkan teguran keras.

Bagaimana mungkin sesuatu yang:

  • tidak berbicara,

  • tidak memberi petunjuk,

justru dijadikan tuhan?

Ath-Thabari menegaskan bahwa penyembahan tersebut merupakan bentuk kezaliman terhadap Allah dan terhadap diri mereka sendiri.


3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi memberikan beberapa pembahasan penting.

Tentang suara patung

Beliau menyebut beberapa pendapat ulama:

  • suara berasal dari angin,

  • suara itu merupakan ujian dari Allah,

  • bukan berarti patung itu hidup.

Pelajaran aqidah

Ayat ini menunjukkan bahwa:

  • sesembahan yang benar harus memiliki sifat ketuhanan,

  • mampu memberi petunjuk,

  • memiliki kekuasaan.

Patung anak sapi sama sekali tidak memiliki sifat tersebut.

Karena itu penyembahan terhadapnya merupakan kesyirikan yang nyata.


4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan mudahnya manusia tergelincir apabila iman tidak kokoh.

Walaupun baru saja:

  • diselamatkan dari Fir'aun,

  • menyaksikan laut terbelah,

  • melihat berbagai mukjizat,

sebagian Bani Israil tetap tergoda oleh simbol yang tampak indah.

Beliau menegaskan bahwa:

Patung itu tidak memiliki:

  • kemampuan berbicara,

  • kemampuan memberi petunjuk,

  • kekuasaan sedikit pun.

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia jangan terpesona oleh bentuk lahiriah sehingga kehilangan akal sehat dan petunjuk wahyu.


5. Tafsir Kementerian Agama RI

Menurut Tafsir Kemenag:

Setelah Nabi Musa pergi menerima wahyu, Samiri memanfaatkan keadaan untuk menyesatkan Bani Israil.

Ia membuat patung anak sapi dari emas sehingga menarik perhatian mereka.

Allah mengecam mereka karena:

  • patung itu tidak berbicara,

  • tidak memberi petunjuk,

  • tidak mempunyai kekuasaan apa pun.

Mereka tetap menyembahnya sehingga digolongkan sebagai orang-orang zalim karena meletakkan ibadah bukan pada tempatnya.


Perbandingan Kelima Ahli Tafsir

MufassirPokok Penafsiran
Ibnu KatsirSamiri membuat patung anak sapi dari emas; suara yang keluar merupakan ujian; patung tidak memiliki sifat ketuhanan.
Ath-ThabariSuara berasal dari rongga patung; Allah mencela kebodohan Bani Israil yang menyembah benda mati.
Al-QurthubiMenjelaskan berbagai pendapat tentang suara patung dan menegaskan syarat ketuhanan tidak dimiliki patung itu.
Quraish ShihabAyat menunjukkan rapuhnya iman ketika manusia lebih terpikat simbol daripada petunjuk Allah.
Kemenag RISamiri memanfaatkan kelengahan Bani Israil; penyembahan anak sapi adalah kezaliman dan penyimpangan tauhid.

Kaitan dengan Ayat Lain

  • QS. Ṭaha [20]: 85–97: Penjelasan rinci tentang Samiri, pembuatan anak sapi, dan dialog Nabi Musa dengannya.

  • QS. Al-Baqarah [2]: 51–54: Kisah Bani Israil menyembah anak sapi dan perintah bertobat.

  • QS. An-Nisa' [4]: 153: Penyembahan anak sapi disebut sebagai salah satu pelanggaran besar Bani Israil.


Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 148

  1. Tauhid harus dijaga, karena penyimpangan dapat terjadi meskipun seseorang pernah menyaksikan banyak mukjizat.

  2. Mukjizat saja tidak menjamin keimanan jika hati tidak teguh dan tidak taat kepada Allah.

  3. Jangan mengikuti pemimpin yang menyesatkan, sebagaimana Samiri menyesatkan Bani Israil.

  4. Akal sehat harus digunakan: sesuatu yang tidak dapat berbicara, memberi petunjuk, atau memberi manfaat tidak layak dijadikan sesembahan.

  5. Syirik adalah kezaliman terbesar, karena mengalihkan ibadah kepada selain Allah.

Kesimpulan

Kelima mufassir sepakat bahwa QS. Al-A'raf ayat 148 menggambarkan penyimpangan besar Bani Israil setelah kepergian Nabi Musa, ketika mereka menyembah patung anak sapi buatan Samiri. Patung itu tidak memiliki sifat ketuhanan sedikit pun—tidak dapat berbicara, memberi petunjuk, atau memberi manfaat. Ayat ini menjadi peringatan bahwa iman harus dibangun di atas wahyu dan akal yang benar, bukan pada kekaguman terhadap simbol atau benda.

AL A''''RAF' 147TAFSIR DAN AYAT TERKAIT

 

Tafsir Lengkap Surah Al-A'raf Ayat 147 (QS. 7:147)

Berdasarkan 5 Ahli Tafsir: Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Quraish Shihab, dan Tafsir Kementerian Agama RI


📖 QS. Al-A'raf Ayat 147

Teks Arab

وَٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا وَلِقَآءِ ٱلْـَٔاخِرَةِ حَبِطَتْ أَعْمَٰلُهُمْ ۚ هَلْ يُجْزَوْنَ إِلَّا مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

Terjemahan Kemenag RI

"Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan (mendustakan) pertemuan di akhirat, sia-sialah amal mereka. Mereka tidak diberi balasan selain apa yang telah mereka kerjakan."


1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat sebelumnya yang menerangkan akibat kesombongan. Orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan tidak percaya kepada hari akhir akan kehilangan nilai amalnya.

a. "Mendustakan ayat-ayat Kami"

Yang dimaksud adalah menolak:

  • ayat-ayat Al-Qur'an,

  • mukjizat para nabi,

  • tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta.

Penolakan itu dilakukan dengan sadar setelah datang penjelasan yang benar.

b. "Mendustakan pertemuan akhirat"

Mereka mengingkari:

  • kebangkitan,

  • hisab,

  • surga,

  • neraka,

  • balasan amal.

Karena tidak meyakini adanya pertanggungjawaban, mereka bebas mengikuti hawa nafsu.

c. "Habislah amal mereka"

Menurut Ibnu Katsir, semua amal baik orang kafir yang dilakukan tanpa iman tidak bernilai sebagai penyelamat di akhirat. Mereka mungkin memperoleh balasan di dunia—seperti pujian atau rezeki—tetapi tidak mendapat pahala akhirat.

d. "Tidak dibalas kecuali apa yang mereka kerjakan"

Allah tidak menzalimi mereka. Hukuman yang diterima sepenuhnya sesuai dengan kekufuran dan amal yang mereka lakukan.


2. Tafsir Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang orang-orang yang:

  • menolak wahyu,

  • mengingkari kebangkitan,

  • mendustakan para rasul.

Makna "ḥabiṭat a‘māluhum"

Amal mereka menjadi batal karena kekufuran menghapus manfaat amal tersebut di akhirat.

Beliau menjelaskan bahwa amal tanpa iman tidak menjadi sebab keselamatan di sisi Allah.

Balasan yang adil

Kalimat:

"Mereka tidak dibalas kecuali apa yang mereka kerjakan."

menunjukkan keadilan Allah. Tidak ada tambahan hukuman di luar dosa yang mereka lakukan, dan tidak ada kezaliman dalam keputusan-Nya.


3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi membahas panjang tentang hubungan iman dan amal.

Beliau menjelaskan bahwa:

  • amal saleh harus disertai iman,

  • kekufuran menggugurkan pahala amal di akhirat.

Beliau juga menjelaskan bahwa orang kafir dapat memperoleh manfaat amalnya di dunia, misalnya:

  • kesehatan,

  • kekayaan,

  • nama baik,

  • umur panjang,

tetapi seluruh itu bukan pahala akhirat.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa keadilan Allah sempurna; setiap orang memperoleh balasan sesuai amalnya.


4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menekankan pentingnya fondasi keimanan.

Menurut beliau:

Amal baik tidak berdiri sendiri.

Amal memperoleh nilai hakiki apabila dibangun di atas:

  • iman kepada Allah,

  • keimanan kepada hari akhir,

  • keikhlasan.

Orang yang menolak hari akhir kehilangan orientasi hidup sehingga amalnya tidak mengantarkan kepada keselamatan abadi.

Beliau juga menegaskan bahwa Allah sama sekali tidak berlaku zalim; balasan diberikan secara proporsional sesuai pilihan manusia.


5. Tafsir Kementerian Agama RI

Menurut Tafsir Kemenag:

Ayat ini menjelaskan bahwa:

  • mendustakan wahyu,

  • mengingkari hari akhir,

menyebabkan amal seseorang kehilangan nilai di sisi Allah.

Mereka mungkin melakukan berbagai kebaikan, tetapi karena tidak beriman, amal itu tidak menjadi sebab memperoleh kebahagiaan akhirat.

Kalimat penutup menunjukkan bahwa Allah memberi balasan berdasarkan keadilan yang sempurna.


Perbandingan Kelima Ahli Tafsir

MufassirPokok Penafsiran
Ibnu KatsirKekufuran menghapus pahala amal di akhirat; amal baik hanya dibalas di dunia.
Ath-ThabariAmal batal karena tidak disertai iman kepada Allah dan hari akhir.
Al-QurthubiAmal saleh harus disertai iman; orang kafir dapat menerima balasan dunia, bukan akhirat.
Quraish ShihabIman menjadi fondasi nilai amal; tanpa iman, amal kehilangan orientasi menuju akhirat.
Kemenag RIPendustaan terhadap wahyu dan hari akhir menyebabkan amal tidak bernilai di sisi Allah pada kehidupan akhirat.

Kaitan dengan Ayat Lain

  • QS. Al-Kahfi [18]: 103–105: Orang yang paling rugi amalnya adalah mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya.

  • QS. Az-Zumar [39]: 65: Syirik dapat menghapus amal.

  • QS. Muhammad [47]: 32–34: Orang yang kafir dan menghalangi jalan Allah akan gugur amalnya.

  • QS. Al-Baqarah [2]: 217: Orang yang murtad lalu mati dalam kekafiran, gugurlah amalnya di dunia dan akhirat.


Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 147

  1. Keimanan kepada Allah dan hari akhir merupakan dasar diterimanya amal.

  2. Mendustakan wahyu dan hari akhir membawa kerugian yang besar di akhirat.

  3. Allah membalas setiap orang secara adil sesuai dengan amal dan pilihannya.

  4. Amal saleh hendaknya dilakukan dengan iman dan keikhlasan agar bernilai di sisi Allah.

  5. Keyakinan akan hari akhir mendorong manusia untuk bertanggung jawab atas setiap perbuatannya.


Kesimpulan

Kelima mufassir sepakat bahwa QS. Al-A'raf ayat 147 menegaskan dua prinsip utama:

  1. Mendustakan ayat-ayat Allah dan mengingkari hari akhir menyebabkan gugurnya pahala amal di akhirat, karena iman merupakan syarat diterimanya amal di sisi Allah.

  2. Allah Maha Adil; setiap orang akan menerima balasan yang sesuai dengan amal dan pilihannya, tanpa sedikit pun kezaliman.

tafsir al a''raf 146

 

Tafsir Lengkap Surah Al-A'raf Ayat 146 (QS. 7:146)

Berdasarkan 5 Ahli Tafsir: Ibnu Katsir, Ath-Thabari, Al-Qurthubi, Quraish Shihab, dan Tafsir Kementerian Agama RI


📖 QS. Al-A'raf Ayat 146

Teks Arab

سَأَصْرِفُ عَنْ ءَايَٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَإِن يَرَوْا كُلَّ ءَايَةٍ لَّا يُؤْمِنُوا بِهَا ۖ وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۖ وَإِن يَرَوْا سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا بِـَٔايَٰتِنَا وَكَانُوا عَنْهَا غَٰفِلِينَ

Terjemahan Kemenag RI

"Aku akan memalingkan dari tanda-tanda (kekuasaan)-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar. Sekalipun mereka melihat setiap tanda (kekuasaan-Ku), mereka tetap tidak akan beriman kepadanya. Jika mereka melihat jalan yang benar, mereka tidak menempuhnya. Tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka menempuhnya. Yang demikian itu karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan selalu lengah terhadapnya."


1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini berbicara tentang hukuman Allah terhadap orang-orang yang sombong.

Makna "Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku"

Allah menghalangi mereka dari memahami petunjuk sebagai akibat kesombongan mereka sendiri. Ini merupakan hukuman setelah mereka terus-menerus menolak kebenaran.

Kesombongan tanpa hak

Yang dimaksud adalah:

  • menolak kebenaran setelah mengetahuinya,

  • meremehkan manusia,

  • merasa diri paling benar.

Beliau mengutip hadis Nabi ﷺ:

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi."

Kesombongan di sini bukan sekadar merasa bangga, tetapi menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Tidak menerima petunjuk

Walaupun melihat berbagai mukjizat dan bukti, mereka tetap tidak beriman karena hati mereka telah tertutup.


2. Tafsir Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa Allah memalingkan mereka dari:

  • memahami Al-Qur'an,

  • mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan Allah,

  • menerima hidayah.

Menurut beliau, penyebabnya bukan karena Allah menzalimi mereka, tetapi karena mereka lebih dahulu memilih kesombongan dan pendustaan.

Kalimat:

"Mereka melihat jalan petunjuk tetapi tidak menempuhnya."

berarti mereka mengetahui mana yang benar tetapi sengaja meninggalkannya.

Sebaliknya mereka memilih jalan kesesatan karena sesuai dengan hawa nafsu mereka.


3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi memberikan penjelasan yang luas mengenai penyakit takabur.

Beliau menjelaskan bahwa kesombongan terdiri atas:

  • menolak kebenaran,

  • menghina manusia,

  • merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Allah memalingkan hati mereka sebagai hukuman atas pilihan mereka sendiri.

Menurut Al-Qurthubi, ayat ini menunjukkan bahwa:

  • hidayah adalah karunia Allah,

  • tetapi kesombongan menjadi penghalang terbesar memperoleh hidayah.

Beliau juga menegaskan bahwa orang yang terus menerus menolak kebenaran akhirnya kehilangan kemampuan membedakan yang benar dan yang salah.


4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat ini menggambarkan proses psikologis orang yang sombong.

Ketika seseorang terus menolak kebenaran:

  • hati menjadi keras,

  • akal menjadi tertutup,

  • bukti sebesar apa pun tidak lagi memengaruhinya.

Menurut beliau:

"Aku akan memalingkan"

bukan berarti Allah menghalangi tanpa sebab, tetapi merupakan konsekuensi dari sikap manusia sendiri yang terus menerus memilih kesombongan.

Ayat ini juga menjelaskan bahwa kesesatan sering kali bukan karena kurangnya bukti, melainkan karena keengganan menerima kebenaran.


5. Tafsir Kementerian Agama RI

Tafsir Kemenag menjelaskan bahwa:

Orang yang sombong:

  • menolak ajaran Allah,

  • menolak nasihat,

  • tidak mau menerima kebenaran.

Akibatnya Allah mencabut kemampuan mereka mengambil manfaat dari petunjuk.

Walaupun mereka melihat tanda-tanda kebesaran Allah:

  • mereka tidak beriman,

  • mereka justru memilih jalan kesesatan.

Ayat ini menjadi peringatan bahwa kesombongan merupakan penyebab utama seseorang kehilangan hidayah.


Perbandingan Kelima Ahli Tafsir

MufassirPenjelasan Utama
Ibnu KatsirKesombongan menyebabkan hati tertutup sehingga tidak mampu menerima hidayah.
Ath-ThabariAllah memalingkan mereka sebagai balasan atas pilihan mereka sendiri yang menolak kebenaran.
Al-QurthubiTakabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia; penyakit terbesar yang menghalangi hidayah.
Quraish ShihabPenolakan terus-menerus membuat hati dan akal kehilangan kemampuan menerima kebenaran.
Kemenag RIKesombongan menyebabkan seseorang memilih kesesatan meskipun bukti telah nyata di hadapannya.

Kosakata Penting

  • سَأَصْرِفُ (Sa-ashrifu) : Aku akan memalingkan.

  • آيَاتِي (Āyātī) : Tanda-tanda atau ayat-ayat-Ku.

  • يَتَكَبَّرُونَ (Yatakabbarūn) : Berlaku sombong.

  • الرُّشْد (Ar-rusyd) : Jalan petunjuk dan kebenaran.

  • الْغَيّ (Al-ghayy) : Jalan kesesatan.

  • غَافِلُونَ (Ghāfilūn) : Orang-orang yang lalai.


Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 146

  1. Kesombongan adalah penghalang terbesar untuk menerima petunjuk Allah.

  2. Hidayah merupakan karunia Allah, tetapi manusia bertanggung jawab atas sikapnya terhadap kebenaran.

  3. Banyaknya bukti tidak akan bermanfaat bagi orang yang menolak kebenaran karena kesombongan.

  4. Orang yang terus mengikuti hawa nafsu dapat kehilangan kemampuan membedakan jalan yang benar dan yang salah.

  5. Seorang mukmin hendaknya bersikap tawaduk, menerima kebenaran dari siapa pun datangnya, dan menjauhi sikap meremehkan orang lain.

Inti ayat: QS. Al-A'raf ayat 146 mengajarkan bahwa kesombongan yang membuat seseorang menolak kebenaran akan berakibat tertutupnya hati dari hidayah Allah. Sebaliknya, kerendahan hati dan kesiapan menerima kebenaran merupakan jalan menuju petunjuk.

tafsir al A''raf '145

 Tanda yang Anda kirim hanya berupa deretan tanda petik (''''''''...).

Apakah maksud Anda ingin saya melanjutkan pembahasan QS. Al-A'raf ayat 145? Jika ya, berikut tafsir lengkapnya.


📖 Tafsir Lengkap QS. Al-A'raf Ayat 145

Ayat

وَكَتَبْنَا لَهُۥ فِى ٱلْأَلْوَاحِ مِن كُلِّ شَىْءٍ مَّوْعِظَةً وَتَفْصِيلًا لِّكُلِّ شَىْءٍ فَخُذْهَا بِقُوَّةٍ وَأْمُرْ قَوْمَكَ يَأْخُذُوا بِأَحْسَنِهَا ۚ سَأُرِيكُمْ دَارَ ٱلْفَٰسِقِينَ

Terjemahan (Kemenag RI):

"Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada lauh-lauh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu. Maka berpegangteguhlah kepadanya dan perintahkanlah kaummu agar berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik."


1. Tafsir Ibnu Katsir

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah memberikan alwāḥ (lembaran-lembaran Taurat) kepada Nabi Musa yang berisi:

  • nasihat,

  • hukum-hukum syariat,

  • halal dan haram,

  • petunjuk kehidupan.

Kalimat "min kulli syai'" bukan berarti seluruh ilmu yang ada, tetapi segala hal yang diperlukan Bani Israil dalam menjalankan agama mereka.

Perintah "fa khudzhā bi quwwah" berarti:

  • menerima Taurat dengan kesungguhan,

  • mengamalkan tanpa malas,

  • teguh menjalankan syariat.

"Wa'mur qawmaka ya'khudzu bi ahsaniha" berarti memilih dan mengamalkan bagian-bagian syariat yang paling sempurna, seperti memaafkan lebih utama daripada membalas ketika syariat membolehkan keduanya.

"Sa urīkum dāral fāsiqīn" dipahami sebagai negeri kaum yang durhaka yang dihancurkan Allah agar menjadi pelajaran.


2. Tafsir Ath-Thabari

Ath-Thabari menjelaskan bahwa Taurat memuat:

  • hukum ibadah,

  • hukum muamalah,

  • batasan halal-haram,

  • nasihat,

  • petunjuk kehidupan.

"Min kulli syai'" berarti seluruh kebutuhan agama Bani Israil, bukan seluruh pengetahuan di alam semesta.

"Bi quwwah" berarti:

  • tekad yang kuat,

  • kesungguhan,

  • ketaatan penuh.

"Bi ahsaniha" berarti mengambil hukum-hukum yang paling baik untuk diamalkan.

"Dār al-fāsiqīn" dapat dipahami sebagai negeri umat-umat yang dibinasakan karena kefasikan mereka, sehingga menjadi peringatan bagi Bani Israil.


3. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurthubi menjelaskan bahwa:

Lauh-lauh Taurat merupakan karunia besar Allah kepada Musa.

Kandungannya mencakup:

  • aqidah,

  • ibadah,

  • akhlak,

  • hukum pidana,

  • hukum sosial.

Beliau menafsirkan "bi quwwah" sebagai kesungguhan lahir dan batin.

Sedangkan "bi ahsaniha" berarti memilih amal yang paling utama ketika terdapat beberapa pilihan yang dibolehkan syariat.

Tentang "dār al-fāsiqīn", beliau menyebut beberapa pendapat ulama:

  • negeri Fir'aun,

  • negeri kaum yang dibinasakan,

  • atau tempat kehancuran orang-orang yang durhaka secara umum.


4. Tafsir Quraish Shihab (Tafsir Al-Misbah)

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Taurat adalah pedoman hidup yang lengkap bagi masyarakat Bani Israil.

Ungkapan "mau'izhah" menunjukkan bahwa hukum Allah bukan sekadar aturan, tetapi juga pendidikan moral.

"Tafshīlan li kulli syai'" berarti penjelasan lengkap mengenai kebutuhan syariat mereka.

Perintah "fa khudzhā bi quwwah" mengandung pesan agar seorang pemimpin menjadi teladan dalam menjalankan wahyu.

Sedangkan "wa'mur qawmaka ya'khudzu bi ahsaniha" mengajarkan umat untuk selalu memilih sikap yang paling mulia, bukan sekadar yang paling mudah.


5. Tafsir Kementerian Agama RI

Kemenag menjelaskan bahwa Allah menuliskan dalam Taurat:

  • ajaran tauhid,

  • hukum ibadah,

  • hukum sosial,

  • nasihat,

  • pedoman kehidupan Bani Israil.

Perintah kepada Musa agar memegang Taurat dengan kuat menunjukkan bahwa wahyu harus dilaksanakan dengan penuh komitmen.

Perintah kepada Bani Israil agar mengambil yang terbaik mengajarkan semangat ihsan, yaitu menjalankan ajaran Allah dengan kualitas terbaik.

Ancaman memperlihatkan negeri orang-orang fasik menjadi pelajaran bahwa siapa pun yang menolak petunjuk Allah akan memperoleh akibat buruk.


Perbandingan 5 Ahli Tafsir

MufassirPokok Penafsiran
Ibnu KatsirTaurat berisi syariat, nasihat, halal-haram; Musa diperintah berpegang teguh dan mengajarkan yang terbaik.
Ath-Thabari"Min kulli syai'" berarti seluruh kebutuhan agama Bani Israil; "bi quwwah" berarti kesungguhan total.
Al-QurthubiMenjelaskan kandungan Taurat dan pentingnya memilih amal yang paling utama (ahsaniha).
Quraish ShihabWahyu adalah pedoman moral dan hukum; pemimpin harus menjadi teladan dalam mengamalkan wahyu.
Kemenag RITaurat menjadi pedoman hidup; ayat menekankan komitmen terhadap wahyu dan mengambil jalan terbaik.

Hikmah QS. Al-A'raf Ayat 145

  1. Wahyu adalah pedoman hidup yang lengkap sesuai kebutuhan umat.

  2. Ilmu agama harus diamalkan dengan sungguh-sungguh.

  3. Seorang pemimpin wajib mengajarkan syariat melalui keteladanan.

  4. Islam mendorong memilih amal yang paling baik (al-ahsan), bukan sekadar yang boleh.

  5. Kehancuran umat-umat terdahulu menjadi pelajaran agar tidak mengulangi kefasikan dan pembangkangan terhadap Allah.