Tafsir QS. Al-A‘rāf Ayat 139 dan Ayat-Ayat Terkait
Teks Ayat
إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Inna hā'ulā'i mutabbarun mā hum fīhi wa bāṭilun mā kānū ya‘malūn.
Artinya
"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan apa yang mereka anut, dan batil apa yang selalu mereka kerjakan."
(QS. Al-A‘rāf: 139)
Munasabah (Keterkaitan dengan Ayat Sebelumnya)
Pada ayat 138, Bani Israil meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan sesembahan sebagaimana kaum penyembah berhala yang mereka lihat.
Maka pada ayat 139 ini, Nabi Musa menjelaskan alasan penolakannya. Beliau menerangkan bahwa segala bentuk ibadah kepada selain Allah adalah kebatilan yang pasti berakhir dengan kehancuran.
Tafsir Ayat
1. Makna "مُتَبَّرٌ" (Mutabbar)
Kata:
مُتَبَّرٌ
berasal dari akar kata تَبَرَ yang berarti:
binasa,
hancur,
rusak total,
musnah tanpa tersisa.
Maksudnya:
Semua sistem keyakinan yang dibangun di atas kesyirikan pasti menuju kehancuran.
Baik kehancuran hujjah (argumentasi), amal, maupun akibatnya di akhirat.
2. Kebatilan Tidak Memiliki Hakikat
Allah berfirman:
وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Dan batil apa yang mereka kerjakan."
Menurut para mufasir:
Yang dimaksud adalah:
penyembahan berhala,
ritual syirik,
pengagungan terhadap sesembahan selain Allah.
Disebut batil karena:
tidak memiliki dasar kebenaran,
tidak mendatangkan manfaat,
tidak dapat menolak mudarat,
tidak diterima oleh Allah.
3. Tafsir Para Ulama
a. Tafsir Ibnu Katsir
Ismail ibn Umar Ibn Kathir menjelaskan:
"Apa yang dilakukan kaum penyembah berhala itu akan hancur, lenyap, dan sia-sia. Semua amal mereka tidak bernilai karena dibangun di atas kesyirikan."
Beliau mengaitkan ayat ini dengan batalnya seluruh amal yang tercampuri syirik.
b. Tafsir At-Tabari
Muhammad ibn Jarir al-Tabari menerangkan:
"Musa mengabarkan bahwa sesembahan mereka tidak dapat memberi manfaat sedikit pun. Apa yang mereka bangun akan dihancurkan Allah."
Ayat ini merupakan bantahan rasional terhadap penyembahan selain Allah.
c. Tafsir As-Sa'di
Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan:
"Kebatilan mungkin tampak indah di mata manusia, tetapi hakikatnya tetap rusak dan akan sirna."
Ini menunjukkan bahwa ukuran kebenaran bukanlah penampilan luar atau tradisi yang diwariskan.
Ayat-Ayat Terkait
1. QS. Al-Isrā': 81
وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
"Dan katakanlah: Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap."
Keterkaitan
QS. Al-A‘rāf: 139 menegaskan kebatilan ibadah syirik, sedangkan ayat ini menjelaskan sifat umum kebatilan: ia tidak akan bertahan di hadapan kebenaran.
2. QS. Az-Zumar: 65
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
"Sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu, jika engkau berbuat syirik, niscaya akan gugurlah amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang rugi."
Keterkaitan
Kesyirikan menyebabkan amal menjadi sia-sia dan tidak bernilai di sisi Allah.
3. QS. Luqman: 13
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
"Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar."
Keterkaitan
Penyebab kebinasaan amal dalam QS. Al-A‘rāf: 139 adalah karena syirik merupakan kezaliman terbesar terhadap hak Allah.
4. QS. Al-Hajj: 73
إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ
"Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun meskipun mereka bersatu untuk menciptakannya."
Keterkaitan
Ayat ini menunjukkan kelemahan sesembahan selain Allah dan membatalkan alasan untuk menyembahnya.
5. QS. Al-Kahfi: 103–104
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
"Katakanlah: Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya."
Keterkaitan
Tidak semua amal yang tampak baik diterima. Amal yang dibangun di atas kebatilan akan menjadi kerugian.
Hikmah dan Pelajaran
1. Kebatilan mungkin tampak menarik, tetapi hakikatnya rapuh.
Apa yang tidak dibangun di atas petunjuk Allah pasti akan runtuh.
2. Amal saleh harus disertai tauhid.
Keikhlasan dan ketauhidan merupakan syarat diterimanya amal.
3. Tradisi bukan ukuran kebenaran.
Banyaknya pelaku suatu perbuatan tidak menjadikannya benar.
4. Seorang mukmin harus menilai dengan wahyu.
Penilaian Allah lebih utama daripada penilaian manusia.
5. Kebenaran pada akhirnya akan menang.
Sebagaimana kebatilan pasti sirna, seorang mukmin hendaknya tetap teguh di atas kebenaran meskipun tampak asing.
Kesimpulan
QS. Al-A‘rāf ayat 139 merupakan penegasan Nabi Musa bahwa segala bentuk ibadah yang tidak ditujukan kepada Allah adalah kebatilan yang pasti berujung pada kehancuran. Ayat ini mengajarkan bahwa nilai suatu amal tidak ditentukan oleh popularitas, tradisi, atau kesungguhan pelakunya, tetapi oleh kesesuaiannya dengan tauhid dan petunjuk Allah.
"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan apa yang mereka anut, dan batil apa yang mereka kerjakan."
Ayat ini menjadi prinsip besar dalam Islam: kebenaran bersumber dari wahyu, sedangkan kebatilan—sekuat apa pun tampaknya—pada akhirnya akan lenyap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar