Cari Blog Ini

Jumat, 12 Juni 2026

AL A'RAF 138: TAFSIR & AYAT TERKAIT

 

Tafsir Surat Al-A‘rāf Ayat 138 dan Ayat-Ayat Terkait

Teks Ayat

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَىٰ قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَىٰ أَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

Wa jāwaznā bibanī isrā'īlal-baḥra fa ataw 'alā qaumin ya‘kufūna 'alā aṣnāmil lahum, qālū yā mūsaj‘al lanā ilāhan kamā lahum ālihah, qāla innakum qaumun tajhalūn.

Artinya:

"Dan Kami seberangkan Bani Israil melintasi laut itu. Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala-berhala mereka, berkatalah Bani Israil, 'Wahai Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.' Musa menjawab, 'Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui.'"
(QS. Al-A‘rāf: 138)


Tafsir Ayat

1. Latar belakang ayat

Ayat ini terjadi setelah Allah menyelamatkan Bani Israil dari kejaran Fir'aun dengan membelah laut. Mereka baru saja menyaksikan mukjizat besar, namun ketika melihat suatu kaum yang menyembah patung, mereka justru meminta kepada Nabi Musa agar dibuatkan sesembahan seperti itu.

Hal ini menunjukkan bahwa:

  • Keimanan yang belum kuat mudah terpengaruh lingkungan.

  • Kebiasaan syirik yang lama dapat membekas dalam jiwa.

  • Mukjizat tidak selalu melahirkan keteguhan iman jika hati tidak dibina dengan ilmu.


2. Tafsir para ulama

a. Tafsir Ibnu Katsir

Ismail ibn Umar Ibn Kathir menjelaskan bahwa Bani Israil baru keluar dari lingkungan penyembah berhala di Mesir. Ketika melihat kaum lain beribadah kepada patung, mereka terpesona dan meminta hal serupa kepada Musa.

Beliau menegaskan bahwa ucapan itu merupakan kebodohan besar, meskipun mereka belum bermaksud keluar dari Islam secara sadar.

b. Tafsir Al-Qurthubi

Al-Qurtubi menerangkan bahwa permintaan tersebut menunjukkan lemahnya pemahaman tauhid. Karena itu Musa berkata:

إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

"Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh."

Yakni bodoh terhadap keagungan Allah dan hak-Nya untuk disembah semata.

c. Tafsir As-Sa'di

Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan bahwa seseorang yang tidak memiliki ilmu syar'i akan mudah menganggap kebatilan sebagai sesuatu yang baik hanya karena banyak dilakukan orang.


Pelajaran (Fawaid) dari Ayat

1. Pentingnya ilmu tauhid

Keajaiban dan pengalaman spiritual saja tidak cukup tanpa ilmu.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ

"Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah."

(QS. Muhammad: 19)


2. Jangan tertipu oleh banyaknya pengikut kebatilan

Sesuatu tidak menjadi benar hanya karena populer.

Allah berfirman:

وَإِن تُطِعْ أَكْثَرَ مَن فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ اللَّهِ

"Jika engkau menuruti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah."

(QS. Al-An‘ām: 116)


3. Syirik merupakan kezaliman terbesar

Allah berfirman:

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar."

(QS. Luqman: 13)


4. Wajib mengingkari kemungkaran dengan ilmu

Nabi Musa tidak membiarkan permintaan itu, tetapi langsung meluruskannya.

Beliau berkata:

إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

"Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengetahui."

Ini menunjukkan kewajiban para pendidik dan ulama untuk menjelaskan kesalahan dengan hikmah dan ilmu.


Ayat-Ayat Terkait

QS. Al-A‘rāf: 139

إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

"Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya, dan batil apa yang mereka kerjakan."

Musa menjelaskan bahwa ibadah kepada berhala pasti sia-sia.


QS. Al-A‘rāf: 140

قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)?"

Nikmat Allah semestinya melahirkan syukur dan tauhid, bukan mencari sesembahan selain-Nya.


QS. Al-Baqarah: 51

وَإِذْ وَاعَدْنَا مُوسَىٰ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً ثُمَّ اتَّخَذْتُمُ الْعِجْلَ مِن بَعْدِهِ وَأَنتُمْ ظَالِمُونَ

"Kemudian kamu menjadikan anak sapi (sebagai sesembahan) setelah Musa pergi, padahal kamu adalah orang-orang zalim."

Peristiwa ini menjadi bukti bahwa penyakit kecenderungan kepada syirik harus diobati dengan pendidikan iman yang berkelanjutan.


Hikmah

  1. Tauhid harus dipelajari dan diajarkan sejak dini.

  2. Lingkungan dapat memengaruhi cara berpikir seseorang.

  3. Tidak semua tradisi masyarakat layak diikuti.

  4. Seorang mukmin harus menimbang segala sesuatu dengan wahyu, bukan sekadar kebiasaan atau mayoritas.

  5. Nikmat Allah seharusnya menambah ketaatan, bukan melahirkan kelalaian.

Kesimpulan

QS. Al-A‘rāf ayat 138 mengajarkan bahwa bahaya terbesar setelah memperoleh nikmat hidayah adalah kebodohan terhadap tauhid. Bani Israil yang baru saja diselamatkan Allah masih tergoda oleh simbol-simbol kesyirikan karena lemahnya pemahaman. Oleh karena itu, iman harus dibangun di atas ilmu, keteguhan, dan sikap kritis terhadap segala bentuk penyimpangan dari ajaran Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar