Tafsir Berkualitas QS. Al-A‘rāf Ayat 140 dan Ayat-Ayat Terkait
Teks Ayat
قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
Qāla aghaira Allāhi abghīkum ilāhan wa huwa faḍḍalakum ‘alā al-‘ālamīn.
Artinya
"Dia (Musa) berkata, 'Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)?'"
(QS. Al-A‘rāf: 140)
Munāsabah (Keterkaitan Ayat)
Ayat ini merupakan lanjutan dari QS. Al-A‘rāf: 138–139.
Pada ayat 138, Bani Israil meminta dibuatkan sesembahan sebagaimana kaum penyembah berhala.
Pada ayat 139, Nabi Musa menjelaskan bahwa sesembahan selain Allah adalah kebatilan yang pasti binasa.
Pada ayat 140, Nabi Musa menegaskan bahwa permintaan tersebut bertentangan dengan akal sehat, fitrah, dan nikmat besar yang telah Allah berikan kepada mereka.
Dengan demikian, ayat ini mengandung argumentasi tauhid melalui nikmat (dalīl an-ni‘mah).
Tafsir Berkualitas
1. Pertanyaan yang Mengandung Pengingkaran
Allah berfirman:
أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا
"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah?"
Menurut para ahli tafsir, bentuk pertanyaan ini disebut istifhām inkārī, yaitu pertanyaan untuk menolak dan mengecam.
Maksudnya:
Sangat tidak pantas mencari sesembahan selain Allah setelah mengetahui bukti-bukti keagungan-Nya.
Nabi Musa tidak sekadar mengatakan "tidak", tetapi membimbing mereka agar berpikir:
Siapa yang menyelamatkan kalian?
Siapa yang membelah laut?
Siapa yang menghancurkan Fir'aun?
Lalu mengapa mencari sesembahan selain-Nya?
2. Nikmat Menuntut Syukur dan Tauhid
Allah berfirman:
وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
"Padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat."
Maksudnya, Allah memberikan berbagai keutamaan kepada Bani Israil pada masa itu, di antaranya:
Diutus para nabi dari kalangan mereka.
Diselamatkan dari penindasan Fir'aun.
Diberi mukjizat melalui Nabi Musa.
Diberi rezeki manna dan salwa.
Diberi petunjuk melalui Taurat.
Tafsir Para Ulama
a. Tafsir At-Ṭabari
Muhammad ibn Jarir al-Tabari menjelaskan bahwa:
Keutamaan tersebut adalah kelebihan yang Allah berikan kepada Bani Israil dibanding umat-umat pada zaman mereka, bukan atas seluruh umat sepanjang sejarah.
b. Tafsir Ibnu Katsir
Ismail ibn Umar Ibn Kathir menerangkan:
Allah mengingatkan mereka terhadap nikmat penyelamatan dan berbagai karunia agar mereka malu meminta sesembahan selain Allah.
Nikmat seharusnya melahirkan rasa syukur, bukan pembangkangan.
c. Tafsir As-Sa‘di
Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menjelaskan:
Di antara bentuk kebodohan terbesar adalah melupakan nikmat Allah lalu berpaling kepada selain-Nya.
Tauhid tumbuh melalui pengenalan terhadap karunia Allah.
Ayat-Ayat Terkait
1. QS. Al-Baqarah: 47
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ
"Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepadamu, dan bahwa Aku telah melebihkan kamu atas segala umat (pada masa itu)."
Keterkaitan
Ayat ini menegaskan kembali bahwa nikmat Allah merupakan alasan untuk tetap teguh dalam tauhid dan ketaatan.
2. QS. Ibrahim: 7
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari, sesungguhnya azab-Ku sangat berat."
Keterkaitan
Meminta sesembahan selain Allah setelah menerima nikmat-Nya merupakan bentuk pengingkaran terhadap nikmat tersebut.
3. QS. An-Nahl: 53
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
"Dan segala nikmat yang ada padamu berasal dari Allah."
Keterkaitan
Karena seluruh nikmat berasal dari Allah, maka hanya Dia yang berhak disembah.
4. QS. Luqman: 14
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
"Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu."
Keterkaitan
Syukur bukan hanya ucapan, tetapi diwujudkan dengan ketaatan dan menjaga kemurnian tauhid.
5. QS. Az-Zukhruf: 87
وَلَئِن سَأَلْتَهُم مَّنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ
"Dan sungguh, jika engkau bertanya kepada mereka, 'Siapakah yang menciptakan mereka?' niscaya mereka akan menjawab, 'Allah.'"
Keterkaitan
Mengakui Allah sebagai Pencipta tidak cukup apabila ibadah masih dipersembahkan kepada selain-Nya. Tauhid harus mencakup pengesaan Allah dalam ibadah.
Hikmah dan Pelajaran
1. Tauhid adalah konsekuensi dari mengenal nikmat Allah.
Semakin seseorang menyadari karunia Allah, semakin besar dorongan untuk beribadah hanya kepada-Nya.
2. Syukur sejati diwujudkan dengan ketaatan.
Bukan sekadar ucapan, tetapi menjaga kemurnian akidah dan menjauhi syirik.
3. Nikmat tidak menjamin keselamatan.
Bani Israil menerima banyak karunia, namun tetap dapat tergelincir ketika lalai menjaga iman.
4. Mengingat nikmat adalah sarana menjaga keimanan.
Merenungkan pertolongan Allah dapat memperkuat keteguhan hati.
5. Kebenaran harus diterima dengan akal yang tunduk kepada wahyu.
Nabi Musa mengajak kaumnya berpikir secara logis sekaligus tunduk kepada petunjuk Allah.
Kesimpulan
QS. Al-A‘rāf ayat 140 mengajarkan bahwa tidak ada alasan untuk mencari sesembahan selain Allah, karena hanya Allah yang menciptakan, menyelamatkan, memberi petunjuk, dan melimpahkan nikmat kepada manusia. Nikmat yang besar semestinya melahirkan syukur, ketundukan, dan tauhid yang murni.
"Apakah aku akan mencari tuhan untuk kamu selain Allah, padahal Dia telah melebihkan kamu atas segala umat?"
Ayat ini menjadi pengingat bahwa mengingat nikmat Allah adalah benteng yang menjaga hati dari kesyirikan dan mengokohkan seorang hamba di atas jalan tauhid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar