TAFSIR AL BAQARAH
201
وَمِنْهُم
مَّن يَقُولُ رَبَّنَآ ءَاتِنَا فِى ٱلدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
Terjemah Arti: Dan di antara
mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di
dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".
Tafsir Quran Surat
Al-Baqarah Ayat 201 201. Dan ada golongan manusia yang beriman kepada Allah dan
hari Akhir. Maka dia meminta kepada Rabbnya agar diberikan kenikmatan hidup
dan beramal saleh selama di dunia. Dia juga meminta kepada-Nya agar diberikan
kesempatan untuk meraih surga dan selamat dari azab neraka.
Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia 201. Dan di antara
manusia terdapat sekelompok orang beriman yang memohon kepada Allah kenikmatan
dunia serta memohon agar mendapat surga di akhirat dan agar dijauhkan dari azab
neraka. Hidayatul Insan bi Tafsiril Qur'an / Ustadz Marwan Hadidi
bin Musa, M.Pd.I Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji seperti
tawaf, sai, wukuf di arafah, bermalam di muzdalifah, melempar jamrah, tahalul,
dan tawaf wada', maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu
menyebut-nyebut nenek moyang kamu dalam tradisi jahiliah dengan khidmat,
khusyuk, dan takzim; bahkan berzikirlah kepada Allah dengan lebih takzim dari
itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, ya tuhan kami! berilah kami
kebaikan di dunia, seperti hidup yang sehat, harta yang banyak, dan keturunan
yang cerdas sehingga terhormat dan bermartabat, tetapi di akhirat dia tidak
memperoleh bagian apa pun karena tidak beriman dan beramal saleh. Mereka itulah
yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan dengan memperoleh
kebaikan di dunia dan keselamatan di akhirat, dan Allah maha cepat
perhitungan-Nya atas semua amal perbuatan manusia.Referensi: https://tafsirweb.com/727-quran-surat-al-baqarah-ayat-201.html
TAFSIR QURAISH SHIHAB Sebagian manusia ada yang diberi petunjuk oleh Allah
sehingga, dengan sepenuh hati, mereka memohon kebaikan dunia dan akhirat serta
memohon kepada Allah agar dijauhi siksa api neraka. https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-201#tafsir-quraish-shihab
TAFSIR JALALAYN.
(Dan di antara mereka ada pula yang berdoa, "Ya Tuhan kami! Berilah kami
di dunia kebaikan), artinya nikmat, (di akhirat kebaikan) yakni surga, (dan
peliharalah kami dari siksa neraka.") yakni dengan tidak memasukinya. Ini
merupakan lukisan tentang keadaan orang-orang musyrik dan keadaan orang-orang
beriman, yang tujuannya ialah supaya kita mencari dua macam kebaikan dunia dan
akhirat, sebagaimana telah dijanjikan akan beroleh pahala dengan firman-Nya:
https://tafsirq.com/2-al-baqarah/ayat-201#tafsir-jalalayn
TAFSIR IBNU KATSIR. Firman Allah Swt.:
{كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ}
sebagaimana kalian menyebut-nyebut nenek moyang kalian. (Al-Baqarah:
200)
Para ulama berbeda pendapat mengenai maknanya. Menurut Ibnu Jarir, dari
Ata, disebutkan bahwa yang dimaksud ialah seperti ucapan seorang anak kecil
kepada ayah dan ibunya. Yakni seperti anak kecil menyebut-nyebut ayah dan
ibunya. Dengan kata lain, demikian pula kalian, maka sebut-sebutlah Allah dalam
zikir kalian sesudah menunaikan semua manasik.
Hal yang sama diriwayatkan pula oleh Ad-Dahhak
dan Ar-Rabi' ibnu Anas. Ibnu Jarir meriwayatkan melalui jalur Al-Aufi, dari
Ibnu Abbas hal yang semisal.
Sa'id ibnu Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa orang-orang Jahiliah
di masa lalu melakukan wuquf dalam musim haji dan seseorang dari mereka
mengatakan bahwa ayahnya dahulu suka memberi makan dan menanggung beban serta
menanggung diat orang lain. Tiada yang mereka sebut-sebut selain dari perbuatan
bapak-bapak mereka. Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad
Saw., yaitu: Maka berzikiriah dengan menyebut Allah, sebagaimana kalian
menyebut-nyebut nenek moyang kalian atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari
itu. (Al-Baqarah: 200)
Ibnu Abu Hatim mengatakan bahwa As-Saddi
meriwayatkan dari Anas ibnu Malik, Abu Wail, dan Ata ibnu Abu Rabbah menurut
salah satu pendapatnya, juga Sa'id ibnu Jubair; serta Ikrimah menurut salah
satu riwayatnya; juga Mujahid, As-Saddi, Ata Al-Khurrasani, Ar-Rabi' ibnu Anas,
Al-Hasan, Qatadah, Muhammad ibnu Ka'b, dan Muqatil ibnu Hayyan hal yang semisal
dengan riwayat di atas. Demikianlah menurut apa yang diriwayatkan oleh Ibnu
Jarir, dari Jama'ah.
Makna yang dimaksud dari ayat ini ialah anjuran
untuk banyak berzikir kepada Allah Swt. Karena itu, maka lafaz asyadda dibaca
nasab sebagai tamyiz. Bentuk lengkapnya ialah seperti kalian menyebut-nyebut
nenek moyang kalian atau bahkan lebih banyak lagi dari itu. Huruf au dalam
ayat ini menunjukkan pengertian merealisasikan persamaan dalam berita.
Perihalnya sama dengan pengertian yang terkandung di dalam firman lainnya,
yaitu:
فَهِيَ كَالْحِجارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً
hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. (Al-Baqarah:
74)
يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ
خَشْيَةً
mereka (orang-orang munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya
kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. (An-Nisa: 77)
وَأَرْسَلْناهُ إِلى مِائَةِ أَلْفٍ أَوْ يَزِيدُونَ
Dan Kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih. (As-Saffat: 147)
Dan firman Allah Swt.:
فَكانَ قابَ قَوْسَيْنِ أَوْ أَدْنى
Maka jadilah dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau
lebih dekat (lagi). (An-Najm: 9)
Au di
sini bukan menunjukkan makna syak (ragu), melainkan untuk merealisasikan subyek
berita seperti apa adanya atau lebih banyak dari itu.
Kemudian Allah Swt. memberikan petunjuk kepada
mereka untuk berdoa kepada-Nya sesudah banyak berzikir kepada-Nya, karena
keadaan seperti itu sangat dekat untuk diperkenankan. Dan Allah mencela orang
yang tidak mau meminta kepada-Nya kecuali hanya mengenai urusan duniawinya,
sedangkan urusan akhiratnya dia kesampingkan. Untuk itu Allah Swt. berfirman:
{فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاقٍ}
Maka di antara manusia ada orang yang mendoa, "Ya Tuhan kami, berilah
kami (kebaikan) di dunia," dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan)
di akhirat. (Al-Baqarah: 200)
Yang dimaksud dengan khalaq ialah
bagian, yakni tiada keberuntungan baginya di akhirat nanti. Di dalam kalimat
ini terkandung makna celaan dan menanamkan rasa antipati terhadap perbuatan
seperti itu.
Sa'id ibnu Jubair meriwayatkan dari Ibnu Abbas,
bahwa dahulu ada suatu kaum dari kalangan orang-orang Arab datang ke tempat
wuquf, lalu mereka berdoa, "Ya Allah, jadikanlah tahun ini tahun yang
penuh dengan hujan, tahun kesuburan, dan tahun banyak anak yang baik-baik,"
mereka tidak menyinggung permintaan untuk akhiratnya barang sedikit pun. Maka
Allah menurunkan firman-Nya: Maka di antara manusia ada yang mendoa,
"Ya Tuhan kami, berikanlah kami (kebaikan) di dunia," dan tiadalah
baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat. (Al-Baqarah: 200)
Lain halnya dengan orang-orang yang datang
sesudah mereka dari kalangan kaum mukmin. Maka doa mereka ialah seperti yang
disebutkan di dalam firman-Nya:
{رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي
الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan
peliharalah kami dari siksa neraka. (Al-Baqarah: 201)
Maka Allah Swt. menurunkan firman-Nya berkenaan
dengan mereka itu, yaitu:
{أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ
سَرِيعُ الْحِسَابِ}
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (Al-Baqarah: 202)
Karena itulah Allah Swt. memuji mereka yang
meminta kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat melalui firman-Nya: Dan
di antara mereka ada orang yang mendoa, "Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa
neraka." (Al-Baqarah: 201)
Doa ini mencakup semua kebaikan di dunia dan
memalingkan semua keburukan, karena sesungguhnya kebaikan di dunia itu mencakup
semua yang didambakan dalam kehidupan dunia, seperti kesehatan, rumah yang
luas, istri yang cantik, rezeki yang berlimpah, ilmu yang bermanfaat, amal
saleh, kendaraan yang mudah, dan sebutan yang baik serta lain-lainnya; semuanya
itu tercakup di dalam ungkapan mufassirin. Semua hal yang kami sebutkan tadi
termasuk ke dalam pengertian kebaikan di dunia.
Adapun mengenai kebaikan di akhirat, yang paling
tinggi ialah masuk surga dan hal-hal yang berkaitan dengannya, seperti aman
dari rasa takut yang amat besar di padang mahsyar, dapat kemudahan dalam hisab,
dan lain sebagainya.
Bagi orang yang menghendaki keselamatan,
dituntut mengerjakan hal-hal yang membawa dirinya ke jalan keselamatan itu,
misalnya menjauhi hal-hal yang diharamkan, perbuatan-perbuatan yang berdosa,
serta meninggalkan hal-hal yang syubhat dan yang diharamkan. Sehubungan dengan
hal ini Abul Qasim Abu Abdur Rahman pernah mengatakan, "Barang siapa yang
dianugerahi hati yang selalu bersyukur, lisan yang selalu berzikir, dan tubuh
yang sabar, maka sesungguhnya dia telah dianugerahi kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat, serta dipelihara dari siksa neraka."
Karena itulah maka banyak anjuran di dalam
sunnah yang memerintahkan membaca doa ini.
فَقَالَ الْبُخَارِيُّ: حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ،
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
"اللَّهم ربَّنا، آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ"
Imam Bukhari mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ma’mar, telah
menceritakan kepada kami Abdul Waris, dari Abdul Aziz, dari Anas ibnu Malik
yang menceritakan bahwa Nabi Saw. acapkali mengucapkan doa berikut: Ya
Allah, Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan
peliharalah kami dari siksa neraka.
قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ
بْنُ إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ صُهَيْبٍ، عَنْ أَنَسٍ
قَالَ: كَانَ أَكْثَرُ دَعْوَةٍ يَدْعُو بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [يَقُولُ] : "اللَّهُمَّ ربَّنا، آتِنَا فِي الدُّنْيَا
حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وقنا عذاب النار"
Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ismail ibnu Ibrahim,
telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz ibnu Suhaib yang menceritakan bahwa
Qatadah pernah bertanya kepada Anas suatu doa yang paling banyak dibaca oleh
Nabi Saw. Maka Anas r.a. menjawab bahwa Nabi Saw. acapkali membaca doa berikut,
yaitu: Ya Allah, Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.
Anas r.a. apabila hendak mengucapkan suatu doa, ia pasti membaca doa ini;
atau bila dia hendak mengucapkan suatu doa, maka ia mengikutkan doa ini di
dalamnya. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Muslim.
Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami ayahku, telah
menceritakan kepada kami Abu Na'im, telah menceritakan kepada kami Abdus Salam
ibnu Syaddad (yakni Abu Talut), bahwa ia pernah berada di rumah Anas ibnu
Malik, lalu Sabit berkata kepadanya, "Sesungguhnya saudara-saudaramu
menginginkan agar engkau berdoa untuk mereka." Maka Anas r.a. membaca doa
berikut: Ya Allah, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan
kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka. Lalu mereka
mengobrol selama sesaat; dan ketika mereka hendak bubar dari rumah sahabat
Anas, mereka berkata, "Wahai Abu Hamzah, sesungguhnya saudara-saudaramu
hendak bubar, maka doakanlah kepada Allah buat mereka." Sahabat Anas
menjawab, "Apakah kalian menghendaki agar aku memecah-belah semua urusan
kalian? Apabila Allah memberi kalian kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat
serta Allah memelihara diri kalian dari siksa neraka, berarti kalian telah
diberi semua kebaikan."
قَالَ أَحْمَدُ أَيْضًا: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ حُمَيْدٍ، [وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ بَكْرٍ السَّهْمِيِّ،
حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ] (3) عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَادَ رَجُلا مِنَ الْمُسْلِمِينَ قَدْ صَارَ مِثْلَ الفَرْخ.
فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "هَلْ
تَدْعُو اللَّهَ بِشَيْءٍ أَوْ تَسْأَلُهُ إيَّاه؟ " قَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ
أَقُولُ: اللَّهُمَّ مَا كُنْتَ مُعَاقِبِي بِهِ فِي الْآخِرَةِ فَعَجِّلْهُ لِي
فِي الدُّنْيَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
"سُبْحَانَ اللَّهِ! لَا تُطِيقُهُ -أَوْ لَا تَسْتَطِيعُهُ -فَهَلَّا
قُلْتَ: {رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ} ". قَالَ: فَدَعَا اللَّهَ، فَشَفَاهُ.
Imam Ahmad mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu
Abu Addi, dari Humaid, dari Sabit, dari Anas, bahwa Rasulullah Saw. menjenguk
seorang lelaki dari kaum muslim yang keadaannya sudah sangat lemah. Rasulullah Saw.
bersabda kepadanya: "Pernahkah engkau mendoakan sesuatu kepada
Allah atau kamu meminta sesuatu kepada-Nya?" Lelaki itu menjawab,
"Ya, aku sering mengucapkan, 'Ya Allah, jika Engkau akan menyiksaku di
akhirat, maka kumohon agar Engkau menyegerakannya di dunia ini bagiku."
Rasulullah Saw. bersabda, "Mahasuci Allah, kamu tidak akan kuat, atau
kamu tidak akan mampu. Mengapa engkau tidak katakan, 'Ya Allah, berikanlah
kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami
dari siksa neraka' Perawi melanjutkan kisahnya, bahwa setelah itu
lelaki tersebut mendoa kepada Allah dengan doa itu; akhirnya Allah
menyembuhkannya.
Hadis ini hanya Imam Muslim sendiri yang mengetengahkannya. Imam Muslim
meriwayatkannya melalui hadis Ibnu Abu Addi dengan lafaz yang telah disebutkan
di atas.
قَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ
بْنُ سَالِمٍ الْقَدَّاحُ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ عُبَيْدٍ
-مَوْلَى السَّائِبِ -عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ السَّائِبِ: أَنَّهُ
سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِيمَا بَيْنُ
الرُّكْنِ الْيَمَانِيِّ وَالرُّكْنِ الْأَسْوَدِ: {رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}
Imam Syafii mengatakan, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Salim
Al-Qaddah, dari Ibnu Juraij, dari Yahya ibnu Ubaid maula As-Saib, dari ayahnya,
dari Abdullah ibnus Saib, bahwa ia pernah mendengar Rasulullah Saw. mengucapkan
doa berikut di antara rukun Bani Jumah dan rukun Aswad, yaitu: Wahai
Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,
dan peliharalah kami dari siksa neraka.
As-Sauri meriwayatkannya pula dari Ibnu Juraij dengan lafaz yang sama. Imam
Ibnu Majah meriwayatkannya pula dari Abu Hurairah r.a. dan Nabi Saw. dengan
makna yang semisal, tetapi di dalam sanadnya terdapat kelemahan.
قَالَ ابْنُ مَرْدويه: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْبَاقِي،
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْقَاسِمِ بْنِ مُسَاوِرٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ
سُلَيْمَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سُلَيْمَانَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
هُرْمُزَ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَا مَرَرْتُ عَلَى الرُّكْنِ إِلَّا
رَأَيْتُ عَلَيْهِ مَلَكًا يَقُولُ: آمِينَ. فَإِذَا مَرَرْتُمْ عَلَيْهِ
فَقُولُوا: {رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ}
Ibnu Murdawaih mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdul Baqi, telah
menceritakan kepada kami Ahmad ibnul Qasim ibnu Musawir, telah menceritakan
kepada kami Sa'id ibnu Sulaiman, dari Abdullah ibnu Hurmuz, dari Mujahid, dari
Ibnu Abbas yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Tidak
sekali-kali aku melewati rukun melainkan aku melihat padanya seorang malaikat
yang mengucapkan amin. Karena itu, apabila kalian melewatinya, maka katakanlah,
"Wahai Tuhan kami, berikanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan
di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Imam Hakim di dalam kitab mustadraknya
mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zakaria Al-Anbari, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Abdus Salam, telah menceritakan kepada
kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Jarir, dari Al-A'masy,
dari Muslim Al-Batin, dari Sa'id ibnu Juhair yang menceritakan bahwa ada seorang
lelaki datang kepada Ibnu Abbas, lalu lelaki itu berkata, "Sesungguhnya
aku telah memberikan bayaran kepada suatu kaum agar mereka mau menanggungku.
Untuk itu aku berikan kepada mereka semua perongkosanku dengan syarat mereka
harus menghajikan aku bersama-sama mereka, apakah hal itu sudah dianggap cukup
(yakni dihajikan oleh orang lain dengan perongkosan dari orang yang
bersangkutan)?" Maka Ibnu Abbas menjawab, "Engkau termasuk
orang-orang yang disebut oleh Allah Swt. di dalam firman-Nya: 'Mereka
itulah orang-orang yang mendapat bagian dari apa yang mereka usahakan; dan
Allah sangat cepat perhitungan-Nya' (Al-Baqarah: 202)."Kemudian
Imam Hakim mengatakan bahwa asar ini sahih dengan syarat Syaikhain, tetapi
keduanya tidak mengetengahkannya. http://www.ibnukatsironline.com/2015/04/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-200-02.html#:~:text=Apabila%20kalian%20telah%20menyelesaikan%20ibadah,berzikirlah%20lebih%20banyak%20dari%20itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar